Senin, 16 November 2015

Barat Gunakan Isu Sunni-Syiah di Suriah

Sebenarnya saya tidak mempunyai niat untuk menulis kembali mengenai adanya rekayasa konflik Sunni-Syiah di Timur Tengah, khususnya di Suriah. Namun, menimbang adanya beberapa artikel yang di-publish di berbagai media sosial terkait konflik Suriah dengan mengedepankan tema perseteruan Sunni-Syiah, maka saya memutuskan untuk menulis ulang kembali pandangan saya terhadap konflik di Suriah yang telah mendera negara itu selama dua tahun terakhir.

 Hasil gambar untuk isis

Di Kompasiana, khususnya, saya mencermati adanya beberapa Kompasianer yang begitu gencar mengangkat kembali tema Sunni-Syiah. Mereka agaknya terpengaruh oleh temperatur politik di Suriah yang kian memanas, seiring dengan rencana Amerika Serikat dan sekutunya untuk menggempur Suriah.

Dean Henderson, seorang kolumnis ternama yang juga aktivis lingkungan, pernah menyatakan dengan lugas bahwa konflik yang terjadi di Suriah bukan sebagai konflik sektarian antara kelompok Sunni-Syiah, melainkan konflik politik global yang melibatkan kepentingan Barat di negara tersebut. Adapun perpecahan Sunni-Syiah hanya digunakan sebagai isu untuk membagi Suriah hingga negara itu jatuh ke dalam "pelukan" kepentingan Barat seperti negara-negara Timur Tengah lainnya.

 Hasil gambar untuk sunni syiah

Dean benar! Tidak hanya di Suriah, isu Sunni-Syiah adalah bahan bakar yang cukup murah dan mumpuni untuk MEMBELAH ISLAM sehingga berujung kepada menumpahkan darah sesamanya. Saya dahulu pernah menulis satu artikel mengenai adanya rekayasa di balik konflik Sunni-Syiah yang kembali mencuat tajam dalam dekade terakhir, terutama pasca revolusi Islam yang terjadi di Iran pada medio 1979.

Hasil gambar untuk pasukan hizbullah lebanon

Ketika itu saya mengutip dokumen dari RAND Corporation, lembaga "think-thank" AS yang juga merupakan partner dari Departemen Pertahanan AS. Sebagai catatan tambahan, lembaga yang sama pula pada tahun 1998 pernah merilis perlunya Indonesia untuk dipecah menjadi 8 bagian. Timor-Timur (yang telah dikonkritkan), Aceh, Ambon, Irian Jaya, Riau dan Bali, sisanya tetap menjadi bagian dari Indonesia.

Khusus untuk Suriah, maka agaknya kembali isu Sunni-Syiah dikobarkan di sana. Media-media Barat secara intens menggambarkan bahwa konflik Suriah adalah konflik sektarian antara kelompok Sunni dan Syiah. Mirisnya, propaganda ini justru ditelan mentah-mentah dan serampangan oleh berbagai media Islam di Indonesia. Secara massive media-medi Islam itu memprovakasi para pembawanya dengan membesar-besarkan tema perseteruan antara Sunni-Syiah, dan mengesampingkan gejolak Timur Tengah belakangan ini.

Padahal, jika dicermati dengan jernih, maka konflik di Suriah sangat tidak tepat bila digambarkan sebagai konflik sektarian antara Sunni dengan Syiah. Walaupun secara madzhab, Bashar Al-Asad adalah seorang Alawi, namun "Syiah"-nya Bashar sangat berbeda dengan Syiah Iran. Asad bukanlah pendukung dari konsep "Wilayatul Fakih" atau pemerintahan ulama di Iran. Ia -Bashar- adalah penyokong partai Ba'ath dengan pandangan hidup dan politik sekuler ala Barat.

Fakta ini juga diperkuat bahwa di sekelilingnya terdapat banyak ulama Sunni yang mendukung kepemimpinannya. Belum lagi fakta bahwa mayoritas pasukan Suriah adalah Sunni, dan bukan Syiah. Sebagaimana mayoritas masyarakat di Suriah adalah pemeluk Islam bermadzhab Sunni, dan bukan pemeluk Islam madzhab-nya Bashar. Sehingga sangat sungguh menggelikan bila di Kompasiana segelintir pihak dengan "semangat 45" menghembuskan isu bahwa konflik di Suriah adalah konflik sektarian antara Sunni-Syiah. Parahnya, mereka menganggap perseteruan itu sebagai "jihad"?

Jika demikian, lalu mengapa Iran terkesan turut serta dalam konflik Suriah? Sebelumnya, perlu disimak bahwa Iran bukan satu-satunya negara yang berperan di Suriah, melainkan banyak negara. Sebut saja Amerika Serikat dan sekutunya, Saudi Arabia, Qatar, Turki, Rusia, China, dan lainnya. Dengan demikian penyebutan Iran sangat memberi kesan kepada publik bahwa konflik di Suriah adalah konflik Sunni-Syiah. Padahal bukan!

Saya lebih cenderung beranggapan bahwa dukungan Iran kepada Bashar Al-Assad bukan dilatarbelakangi oleh keyakinan (silakan cermati bahwa kekuasaan politik Bashar dibangun dan disokong oleh kekuatan Partai Ba'aath yang beridologi sosialis dan sekuler). Alasan utama Iran mendukung Suriah ialah tak lebih kepada karena Suriah selama ini menjadi aliansi strategis Iran dalam menghadapi ancaman Israel. Sudah bukan rahasia, Poros segitiga (Suriah, Iran, Hizbullah) adalah poros Timur Tengah untuk melawan Israel. Suriah pula adalah negara yang diduga sebagai perpanjangan tangan Iran dalam menyokong Hizbullah di Lebanon Selatan, yang nota bene pernah berperang secara terbuka dengan Israel.

 Hasil gambar untuk peta suriaya iran libanon

Walhasil, menyatakan bahwa konflik Suriah adalah konflik sektarian adalah kesimpulan yang terlalu gegabah dan terburu-buru. Ada banyak kepentingan asing yang bermain di Suriah. Dan isu Sunni-Syiah -sekali lagi - hanya digunakan sebagai kendaraan tunggangan untuk memutuskan kepentingan asing tersebut. Mengapa? Karena tidak ada lagi bahan bakar yang paling murah untuk membakar kecuali isu-isu Sunni-Syiah. Dalam hal ini Saudi dengan Wahabi-nya menjadi aktor utama dalam menyiramkan isu-isu yang sebenarnya harus telah usai tersebut.

Gitu aja koq repot!

Selamat menikmati pentungan.
Dewa Gilang
/dewagilang98

Tidak ada komentar:

Posting Komentar