Jumat, 13 November 2015

Legenda Mata Air Letomatan

Legenda mata air leto matan - asosiasi guru penulis indonesia flores ...
agupenaguruflotim.blogspot.com/2015/.../legenda-mata-air-leto-matan.htm...
10 Jul 2015 - LEGENDA MATA AIR LETO MATAN. Oleh : Maksimus Masan Kian. Lewo Kobek Tanah Bele Tanah Kemau Riang Geka. Sebuah tempat ...

Lewo Kobek Tanah Bele Tanah Kemau Riang Geka. Sebuah tempat terletak antara Lewokluo Woyon Tobo, Tanah Knilok Nape Hape (Kampung Lewokluo) dan Lewo Blepa Lolon Girek, Tanah Hala Lolon Burak (Sekarang Desa Blepanawa) hiduplah tiga anak yatim piatu -- tiga laki-laki dan satu wanita—anak dari Raya Sigu Liwu Tuan Labo Bayo dan Ibu Ema Bota Bewa Inak Sabu Peni—Mereka, yakni Situ Wolo Selayu Enga (Baca: Situ Wolo), Bere Yawa Keliwu Sina (Baca: Bere Yawa), Bolok Yawa Migu Sina (Baca: Bolok Yawa) dan si bungsu wanita bernama Tonu Uto’ Wata’ Wuyo Hadun Horet (Baca: Uto Wata).

Tiga saudara laki –laki harus menganti peran sebagai ayah. Membanting tulang bekerja di ladang berburu dan mengiris tuak (buah pohon lontar) untuk bisa makan sehari – hari. Sementara, Uto Wata mengganti peran ibunya memasak, mencari kayu, mencuci, mengambil air dan pekerjaan ibu rumah tangga lainnya.

Pada zaman itu di Lewo Kobek sungguh sulit mendapatkan dan menikmati air. Saban subuh, gadis –gadis dan ibu – ibu di kampung itu termasuk Uto Wata masuk keluar hutan mencari air yang sumbernya diperoleh dari embun dedauanan. Mereka mengumpul air dengan cara meresapkan embun dedaunan pada kain sarung. Sarung yang telah teresap embun kemudian diperas pada wadah penampung. Air embun dari kain sarung itulah digunakan untuk memenuhi kebutuhan air di kampung itu.

Aktivitas membasahi embun dedaunan dilakukan Uto Wata setiap hari dan dari musim ke musim. Walau kadang kala ia harus pulang tanpa membawa air sedikit pun. Jika tak dapat embun, mereka terpaksa meneguk tuak melepas dahaga dan rasa haus mereka. Namun suatu siang panas dan penat Uto Wata sedang sendirian di Podok. Sebuah peristiwa tidak seperti biasanya terjadi. Anjing jantan dan betina piaraannya yang diberi nama Uri Kiwa (Betina) dan Lango Amu (Jantan) muncul dalam keadaan basah dan penuh lumpur setelah menghilang ke hutan. Peristiwa yang sama terjadi secara berulang dan hanya dilihat oleh Uto Wata. Setiap hari Uto Wata berpikir ingin mencari tahu apakah ada kemungkinan di sekitar tempat tinggal mereka ada sumber mata air.

Suatu malam Uto Wata menemukan ide. Ia menganyam dua buah ketupat kemudian diisinya dengan abu dapur hingga penuh dan digantungkan pada leher anjing peliharaannya. Pada ketupat dibuat lubang – lubang kecil dengan maksud abu dapur yang terisi dalam ketupat tercecer keluar ke tanah meninggalkan jejak yang bisa dijadikan petunjuk kemana dan dimana anjing peliharaannya pergi hingga tubuh anjing – anjing itu basah dan penuh lumpur. Setelah ketupat berisi abu dapur dikalungkan pada leher anjing-anjing peliharaannya, Uto Wata menelusuri hutan mengikuti jejak anjing tersebut. Tiga saudaranya, Situ Wolo, Bere Yawa dan Bolok Yawa sedang berada di ladang. Ia pun bergegas mengambil ‘Bliwo’ (Wadah yang terbuat dari buah labu yang dikosongkan isinya dan dikeringkan untuk mengisi air) berjalan mengikuti jejak abu- abu dapur tercecer di tanah yang dibawah anjing-anjing peliharaannya hingga sampailah di sebuah tebing, Uto Wata beristirahat.

Dari atas ketinggian, Uto Wata melihat anjing – anjingnya sedang mengais dedauanan. Penasaran, Uto Wata bergegas turun tebing dan menemui anjing –anjingnya yang sedang berguling badan di kumbangan berlumpur. Sebuah pemandangan yang tidak biasanya dan menimbulkan tanda tanya besar pada diri Uto Wata. Apa yang sedang terjadi?. Uto Wata mengorek tanah kumbangan itu sedalam pergelangan tangannya. Tak lama kemudian keluarlah air yang bersih dan jernih. Uto Wata dengan penuh semangat terus mengorek tanah kubangan. Dalam dan semakin dalam hingga air yang keluar pun semakin banyak membentuk kolam kecil. Uto Wata meminum air dari sumber yang baru ditemukannya itu dan segera mengambil bliwo.
Setelah tiga bliwo terisi penuh air, Uto Wata mandi di kubangan mata air tersebut. Berulang kali Uto Wata merendam tubuh lalu berjemur hingga hari menjelang petang. Uto Wata harus bergegas pulang menyiapkan makanan untuk saudara – saudaranya yang seharian bekerja di ladang. Uto Wata cepat – cepat mengambil kain sarungnya yang sebelumnya diletakkan di sebuah batu besar berada di sekitar sumber mata air tersebut. Ketika hendak melangkah ke arah batu terdengarlah bunyi gemuruh yang dahsyat. Dalam sekejap tebing batu dihadapannya terbelah menjadi dua. Seorang pemuda tampan berdiri di tengah bongkahan batu itu dan menatapnya penuh jelih.

Uto Wata tertunduk malu. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya saat melihat pemuda tampan itu berada di tengah bongkahan batu. “Siapa namamu?” tanya pemuda tampan itu pada Uto Wata. “Saya, Tonu Uto’ Wata’ Wuyo Hadun Horet,” katanya dengan paras wajah penuh malu. Percakapan pun terjadi antara keduanya, “Siapa Ayah Ibumu dan kamu tinggal dimana? Adakah saudara – saudaramu?.” Pertanyaan beruntun membuat Uto Wata bertanya dalam hati, siapa Pemuda yang sedang berbicara dengannya.
“Ayahku Raya Sigu Liwu Tuan Labo Bayo dan ibuku Ema Bota Bewa Inak Sabu Peni. Keduanya telah meninggal. Sekarang hanya tinggal kami empat bersaudara. Tiga saudaraku Situ Wolo Selayu Enga, Bere Yawa Keliwu Sina, Bolok Yawa Migu Sina,” kata Uto Wata sambil bertanya, “Lalu, siapa kamu?.” “Kopong Sede Lewo Lein Mamun Liko Lewo Weran. Saya, Raja Dunia Gaib seantero Alam Raya. Akulah pemilik air ini. Maukah Uto Wata menjadi istriku? Saya akan memberikan air ini, sebagai belis untukmu,” kata pemuda tampan tadi.
Uto Wata mengatakan. “Bolehkah terlebih dahulu hamba tuanku meminta persetujuan saudara –saudaraku?.” “Baiklah, aku raja Kopong Sede Lewo Lein Mamun Liko Lewo Weran menunggu jawaban dari saudara –saudaramu.” Mendengar kata-kata itu, Uto Wata terkesima. Matanya berbinar-binar hingga tak awas memperhatikan pemuda tampan itu. Kopong Sede Lewo Lein Mamun Liko Lewo Weran (Baca : Kopong Sede) dalam sekejab berubah rupa menjadi seekor ular.

Hari menjelang malam. Matahari beranjak pulang, Uto Wata bersama anjing piaraanya kembali ke rumah membawa air di bliwo. Dalam perjalanan pulang Uri Kiwa dan Lango Amu berlari mendahului Uto Wata. Sementara “ular” itu diam – diam menyelinap mengikuti jejak kaki Uto Wata. Saudara –saudaranya menanti dengan penuh cemas. Tidak seperti biasannya saudari mereka keluar rumah hingga sore dan tidak menyiapkan makanan. Uto Wata masuk rumah. Bergegas Uto Wata menuju dapur menyiapkan makanan buat saudara – saudaranya.
Uto Wata menghidangkan makanan berupa nasi, sayur dan menyuguhkan air dalam bliwo yang diambil dari sumber air yang baru ditemukan hari itu. Selesai makanan dan minuman, saudara-saudaranya bertanya kepada Uto Wata. Darimana Uto Wata mendapatkan air yang rasanya sangat sejuk dan segar, berbeda dari biasanya. Uto Wata menceritarkan semua hal yang ia alami selama seharian dari pagi hingga sore itu. Ceritera itu membuat saudara-saudaranya berlinang air mata. Sebuah perdebatan karena perbedaan pendapat antar ketiga bersaudara laki-lakinya, namun akhirnya mereka pun sepakat saudarinya menerima lamaran Kopong Sede. Sementara di luar rumah “ular” yang mengikuti Uto Wata menguping dan mendengar perbincangan mereka.

Atas petujuk dalam mimpi Uto Wata dan saudara sulungnya Situ Wolo, maka saudara – saudaranya mempersiapakan gere (Sebuah balai bambu). Uto Wata mengambil sarung tenunanya berwarna coklat kemerahan bersulam siput – siput pantai berwarna putih –putih. Perhiasan gelang gading, blaon kalung emas disiapkan. Tibalah hari nawo bine (Mengantar gadis) kepada pemuda tampan yang melamar Uto Wata. Sesampainya mereka di pinggir tebing, mata mereka tertujuh ke bawah dan melihat begitu banyak laki –laki dan perempuan. Mereka adalah manusia – manusia alam gaib yang sedang menuggu dan menyambut Uto Wata diantar saudara- saudaranya. Sementara di tengah - tengah berdiri Kopong Sede dengan pakaian kebesaranya.

Sesampainya di pinggir kolam, perasaan sedih menyelimuti saudara – saudaranya. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulut Uto Wata. Ia pun hanya berlinangkan air mata. Balai bambu kemudian diletakkan di tengah kolam. Selesai upacara adat nawo bine, secara bergantian Situ Wolo, Bere Yawa dan Bolok Yawa saling bersalaman, berpelukan dengan saudarinya yang sebentar lagi akan pergi. Suasana haru menghantar kepergian saudari mereka. Uto Wata melangkah maju dan duduk di atas balai bambu yang terletak di tengah kolam didampingi Kopong Sede. Air Kolam pun semakin naik, bersamaan dengan naiknya air, Uto Wata dan Kopong Sede semakin turun ke dalam air hingga leher. Uto Wata berpesan kepada saudara – saudaranya, “apabilah wajahku sudah tidak tampak lagi pada saat itu akan ada letusan dahsat. Jangan kamu lari. Tetaplah berdiri di pinggir kolam ini dan ambilah apa saja yang terapung di kolam ini, baik kleten bala klirik tonu, tale lodan kayo’ wuan (Batang kayu dan daun – daun serta tali dan buah pohon). Ambil dan simpanlah di epu Petun wutu Bunu roin peri lolon pole (Pondok Bambu). Sesudah tujuh hari baru buka untuk lihat”.
Setelah menyampaikan pesan, gemuruh air menggelegar membentuk pusaran menelan Uto Wata dan Kopong Sede. Lenyaplah mahkluk Nitun Wai ke alamnya.

Tak lama kemudian air mengalir dengan derasnya membawa bergelimpangan batang –batang, ranting – rating dan juga buah- buah dari pohon. Mengingat pesan saudarinya, ketiga kakak beradik ini mengambil sebatang kayu, seranting daun, seutas tali hutan, dan dua buah biji pohon. Semuanya dibawah pulang dan di disimpan di pondok bambu. Tujuh hari kemudian mereka membuka pintu pondok dan melihat batang kayu berubah menjadi Bala Wekak (Gading), seutas tali berubah menjadi lodan (kalung emas), ranting daun menjadi emas berkepala penyu dan dua buah pohon berubah menjadi sepasang blaon (anting).

Legenda Uto Wata yang rela memberi dirinya untuk kehidupan banyak orang selalu dikenang hingga kini. Semua harta warisan sejarah itu dijaga suku Lewo Lein dan disimpan di Rumah Adat (Korke) Suku Lewo Lein di Lewokluo. ***
------------------------------------------------------------------------------
---- Mata Air “Leto Matan”: Oleh masyarakat Flotim dikenal air Bama, karena mata air Leto Matan mengalir hingga Bama. Sesungguhnya mata air Leto Matan berlokasi di Desa Blepanawa (Wilayah Administratif Pemerintahan Flores Timur). Secara Adat berada dalam wilayah Lewokluo. Sekarang mata air ini Leto Matan, menjadi sumber utama akan air bersih bagi masyarakat Kota Larantuka.
(Juara IV Lomba Menulis Ceritera Rakyat Antara Guru SMP, SMA/SMK Se- Kabupaten Flores Timur Tahun 2014)
Diposkan oleh AGUPENA FLOTIM di 06.51legenda mata air leto matan - asosiasi guru penulis indonesia flores ...
agupenaguruflotim.blogspot.com/2015/.../legenda-mata-air-leto-matan.htm...
10 Jul 2015 - LEGENDA MATA AIR LETO MATAN. Oleh : Maksimus Masan Kian. Lewo Kobek Tanah Bele Tanah Kemau Riang Geka. Sebuah tempat ...

 Legenda Air Bama


Air Bama

Sumber Air Bama terletak 23 Km, arah barat Kota Larantuka Kabupaten Flores Timur, yang memberi kehidupan bagi para penduduk Kota Larantuka dan daerah sekitarnya, mempunyai cerita yang sangat unit dan menarik. Air Bama Merupakan sumber mata air utama untuk Kota larantuka.

Pada zaman dahulu kala di Desa Onge kampung lama dari Desa Lewokluo ( sekarang ), tinggallah dua bersaudara. Yang pria bernama Bolok Jawa dan wanita bernama Sabu Peni.mereka berasal dari marga Leyn. Orang tua mereka sudah meninggal di kala keduanya telah berajak remaja. Keduanya hidup rukun dan damai. Bolok Jawa berladang dan menyadap lontar sedangkan Sabu Peni menenun dan mengurus rumah tangga selayaknya semua wanita di kala itu.

Air minum merupakan masalah utama bagi Desa Onge maupun desa desa di sekitarnya. Hal ini sangat dirasakan apabila musim kemarau tiba. Penduduk mengeluh kekurangan air. Tidak jarang penduduk meninggal akibat kehausan.
Apabila musim kemarau tiba kaum wanita beramai ramai memasuki hutan untuk menyadap embun pagi yang tergenang di dedaunan. Pekerjaan yang sangat berat dan membosankan selama enam bulan lamanya. Menjelang pagi buta mereka memasuki hutan membawa perlengkapan menyadap embun untuk memasak makan dan untuk minum selama sehari.Sabu Peni mengerjakan pekerja ini dengan tabah namum dalam hati kecilnya menyimpan harapan besar untuk dapat menemukan sebuah sumber air bagi desanya dan kaum keluarganya.

Pada suatu pagi yang cerah, Sabu Peni memesuki hutan untuk menyadap embun seekor anjing piaraan Bolok Jawa mengikutinya. Sabu Peni sibuk mengerjakan pekerjaannya dan sang anjing pun menghilang. Namum di kala dia hendak kembali sang anjing muncul dan menemaninya ke rumah. Sabu Peni terkejut melihat mulut anjing berlumpur, Sabu Peni mendekatinya dan mengamati secara baik, dan setelah di amati secara saksama diketahuinya ada lumpur yang melekat di jemari sang anjing. Hatinya sangat lega. Sabu Peni bergegas kembali ke rumah. Malam harinya ia membuat rencana untuk membawa sang anjing keesokan harinya.

Pagi hari ke dua, Sabu Peni bergegas bangun. Di panggilnya anjing itu ke duanya memasuki hutan. Sang anjing menghilang lagi dan takala hendak kembali, sang anjing datang. Kali ini lumpur semakin banyak melekat di tubuh sang anjing, maka Sabu Peni yakin bahwa sang anjing telah menemukan sebuah sumber air. Pada malam harinya Sabu Peni menggayam sebuah bakul kecil, diisinya abu dapur sampai penuh, pada bagian bawahnya di beri lubang tempat abu dapur tercecer. Malam harinya Sabu Peni tidak bisa tidur dia membayangkan betapa bahagianya warga desa seandainya rencana itu berhasil, terlebih kaum wanita dapat mengakhiri pekerjaan rutin dan berat itu.

Pada hari ke tiga, Sabu Peni bangun sebagaimana biasanya. Dia memanggil anjing, dibawanya perlengkapannya serta bakul yang berisi abu dapur. Setibanya di tempat dia menyadap embun,dia memanggil anjing, di ikatnya bakul kecil di leher anjing dan ia pun berkerja sebagaimana biasanya. sang anjing menghilang dan takalan ia hendak kembali, sang anjing datang. Segera ia memaggil anjing itu dan memeriksanya. Ternyata bakul itu telah kosong. Sabu Peni bergegas berjalan menyelusuri ceceran abu dapur itu dan di temani anjing piarannya. Perjalanan amat jauh dan melelahkan, melewati hutan lebat, mendaki gunung, menuruni lembah ia tak memikirkan bahaya yang akan menimpahnya. Dia terus berjalan dan tak kenal lelah. Dan tak kala menjelang tengah hari, tibalah Sabu Peni di Air Bama, sekarang bernama Leto Behe. Anjing berlari dan berhenti pada dedaunan kering, seakan memberi petunjuk kepada Sabu Peni untuk datang ketempat itu. Didapatnya lumpur basah lalu ia membersihkannya, tempat disekitarnya dengan tangannya. Dikoreknya lumpur basah itu air semakin jerni memenuhi lubang kecil Hatinya sangat girang. Sabu Peni menggali lubang itu semakin besar,air segera memenuhi lubang itu,lalu ia menimba dan meneguknya sampai puas dan mengisi tempatnya sampai penuh. Ia pun mandi sepuas-puasnya. Pakaiannya basah kuyup. Dicucinya ambut yang panjang terurai itu. Kemudian ia memjujung tempayangnya dan kembali kekampung di temani sang ajing. Bolok Jawa yang bingung dan cemas menunggu kedatang Sabu Peni. Ia sangat senan menyambut kedatangan adiknya. Berita itupun tersebar . Bolok Jawa mengumpulkan beberapa kawan prianya dan pergi menuju Leto Behe. Peduduk Desa Onge bergembira sejak saat itu. Sabu Peni disanjung-sanjung dan disayangi segenap warga desa.

Setelah sebulan lamanya, pada suatu malam Sabu Peni bermimpi. Dalam mimpinya ia bertemu dengan seorang pria tampan dan gagah, sang pemuda itu menceritakan padanya bahwa dialah pemilik sumber air itu. Sang pemuda telah jatuh cinta pada sejak pertemuan pertamanya di Leto Behe. Sang Dewa Air [Nitung = Lamaholot] itulah yang memberi air itu, karena cintanya kepada gadis Sabu Peni, dan ia berjanji apabila Sabu Peni menerima cintanya, maka ia akan menjadikan sumber air itu menjadi besar dan deras, alirannya sampai kelaut dan tidak akan berkurang sepanjang masa.

Pagi harinya Sabu Peni menceritakan minpinya kepada Bolok Jawa, namun anehnya Bolok Jawa pun berminpi yang sama dengan Sabu Peni. Sabu Peni ditanyai kesediaannya. Dan ternyata Sabu Peni sangat senang hatinya. Sabu Peni mengiahkannya. Bolok Jawa pun merelakannya, karena mereka yakin bahwa seorang anak manusia akan meninggalkan dunia fana ini apabila Dewa/Nitung telah jatuh cinta kepadanya.

Malam hari tiba, mimpi pun selalu datang. Sabu Peni selalu bertemu dengan Dewa Air. Dia menunjukan kehidpannya dikemudian hari setelah menikah dengannya. Kemewahan hidup sang Dewa Air mendorong Sabu Peni untuk mengorbankan dirinya untuk segera menemui kehidupan yang baru.

Bolok Jawa merasa sangat tersiksa mengenang hari-hari kehidupannya dimasa depan tampa keponakannya yang lahir dari seorang ibu . Namun Sabu Peni menghiburnya dengan berkata bahwa Bolok Jawa akan dikurniakan panjang umur dan bahagia di hari tuanya bersama istrinya. Sabu Peni memilih calon tunangan kakaknya, seorang gadis yang rajin, anak saudara paman laki laki bunda mereka yang tercinta. Akhirnya Bolok Jawa pasrah.

Sabu Peni menyuruh Bolok Jawa mendirikan baleh baleh di sumber air Leto Behe dan mengundang seluruh warga desa dan kaum keluarganya. Sabu Peni mengenakan pakaian pengantin sebagaimana biasanya, dia di antarkan ke sumber air itu didudukinya di baleh baleh yang didirikan oleh Bolok Jawa.

Pada hari yang telah ditetapkan, tiba semua keluarga berkumpul pada malam hari di adakan pesta yang sangat meriah. Keesokan harinya Sabu Peni berdandan dan semua warga desa bergerak dari Desa Onge menujuh ke Leto Behe. Setibanya mereka di situ satu persatu mereka memluk dan mencium Sabu Peni untuk terakhir kalinya. Para wanita menangis meratapinya, namum Sabu Peni tetap tegar dan tidak meneteskan air mata. Yang terakhir saudara satu satu yang selama hidup menjaga dan merawatnya, sang kakak Bolok Jawa menciumnya keduanya berpelukan cukup lama, semua yang ada di stu turut menangis melihat perpisahan kedua anak yatim piatu yang mengharuhkan. Perpisahan yang tidak bisa di ukiri oleh akal manusia, namum kenyataan dan kepercayaan yang membuat keduanya saling merelakan, sehingga sang kakak yang terlihat tegar pun tak bisa menahan deraian air mata. Sementara itu Sabu Peni berbisik di telinga Bolok Jawa, apabila air telah naik menutupi wajah ku, sanggulku akan terlepas, rambut ku akan bertebaran di permukaan air, maka akan terdengar letusan yang amat dahsyat dan kalian semua akan berlari meninggalkan tempat ini, tetapi engkau janganlah takut,berdiri ditepi kali ini dan apa saja yang hanyut bawah air ke arah mu, pungutlah dan di bawah ke rumah mu. Kedua nya berhenti menangis, hari telah siang Sabu Peni meluruskan kakinya ke selatan dan tenang menantikan saat saat terakhir hidupnya.

Air mulai naik sampai akhirnya menutupi wajahnya. Sanggulnya pun terlepas dan rambutnya terurai bertebaran di atas permukaan air, maka terjadilah letusan yang sangat dahsyat, semua orang pengiring berlari berhamburan namum Bolok Jawa masih tetap berdiri sendiri sambil menantikan apa yang di pesankan adiknya. Tak lama kemudian air menghayutkan sebatang kayu kering, seutas tali hutang dan beberapa daun kering kearahnya. Bolok Jawa memunggutnya dan membawa pulang ke rumah sembil menangis. Setibanya di rumah, diletaknya di pondok tampat ia menyadap lontar. Namum keesokan harinya benda tak berharga itu berubah wujud menjadi sebatang gading besar dan panjang, seutas rantai emas dan kepingang uang perak, dan Bolok Jawa mengambil benda itu dan menyimpannya di rumahnya. Segenap warga kampng datang melihat benda benda berharga yang merupakan belis Sabu Peni yang diberikan oleh suaminya Sabu Peni Dewa Air Leto Behe.

Takala pembukaan area ladang tahun itu Bolok Jawa memilih dekat lokasi sumber air Leto Behe, hujan tahu nitu sangat banyak hasil padi dan jagung bakal melimpah, di kala musim jagung muda tiba babi ladang masuk ke ladangnya dan memakan jagungnya, hatinya sangat sedihm, Bolok Jawa memutuskan memasang jerat ladak. Keesokkan paginya seekor ladak jantan berhasil di tangkapnya, hatinya sangat lega dan puas,dipangan daging ladak itu dan di santapnya sampai puas.

Dua hari kemudian menjelang sore terdengar suara sang bayi menangis. Sang bayi terus saja menangis, keteika itu terdengar suara ia mengatakan Wahai saudarku Bolok Jawa, begitu tega engkau menangkap bintang peliharaan kami tanpa seizinan kami, suara itu sungguh sungguh suara Sabu Peni, Bolok Jawa berlari menujuh sumber air. Suaranya kedengar jelas datangnya dari arah batu besar dekat sumber air itu, sejenak Bolok Jawa memanggil katanya Sabu saudaraku, aku sudah di sini bagaimana aku dapat bertemu kali ? Sabu Peni menjawab , bersabarlah sebentar, suami ku sedang bersiap pergi memancing di laut. Kemudian terdengar suara Sabu Peni mengatakan pejamkan matamu Bolok Jawa pun menurutinya. takala membuka matanya ternyata ia sudah berada di sebuah rumah yang mewah. Bolok Jawa di persilahkan masuk, keduanya mencerita kehidupan masing masing. Sabu Peni mencertiakan kehidupan manusia dengan roh halus seperti dirinya, Sabu Peni mengatakan bahwa ladak yang di tangkap itu adalah ayam piaraannya. Kesempatan baik itu digunakan Sabu Peni untuk menunjukan harta suaminya, ternyata suaminya adalah seorang pemimpin di desanya semua warga sangat segan dan patuh kepadanya. Kemudian Sabu Peni berkata, jikalau suami ku pulang pasti dia sangat gembira dan akan menyedikan makan bagimu. Tapi, janganlah engkau makan sebelum cincin di jari manis di tangan kanannya di serahkan kepada mu. Semua harta itu tidak akan kekal tapi cincin itu akan kamu miliki secara turun temurun, simpanlah bersama gading, rantai emas dan uang perak sebagai kenangan kita berdua.

Hari sudah siang, suaminya kembali, segera Sabu Peni menyampaikan berita kunjungan kakaknya. Dewa Air sangat senang, di undangnya semua warga desanya. Malam harinya di adakan pesta, namum dikala santap bersama tiba, Dewa Air mempersilakan iparnya makan. Bolok Jawa menolaknya sampai beberapa kali, akhirnya Dewa Air memohon agar Bolok Jawa meminta apa saja yang ingin di perolehnya. Bolok Jawa meminta cincin permata di jari manis Dewa Air. Ia membukanya lalu mengenakan di jari manis Bolok Jawa, kemudian mereka bersantap bersama. Menjelang pagi Sabu Peni dan suaminya mengantarkan Bolok Jawa di depan pintu masuk perkarangan rumah. Setelah berpamitan mereka berpisah untuk selama lamanya. Dewa Air menyuruh Bolok Jawa memejamkan matanya, setalh di buka ternyata dirinya berada di tepi sumber air Leto Behe. Cincin yang di bawanya kemudian di simpan bersama gading, rantai emas dan uang perak di rumahnya.

Sampai kini di rumah adat marga Leyn. Di Desa Lewokluo Demong Pagong Kabupaten Flores Timur. Masih tersimpan dan terawat baik benda benda pusaka milik Bolok Jawa Leyn oleh keturunannya. Memang aneh tapi nyata anda dapat melihat sendiri sebatang gading besar yang tidak berongga. Rongganya kecil sepanjang 12 cm, rantai emas dan uang perak serta cincin waisat yang menjadi kebanggaan tersendiri dan kenangan kejayaan leluhur di masa silam.
Diposkan oleh Deri Febrian di 04.49


Tidak ada komentar:

Posting Komentar