Kamis, 01 Mei 2014

Zaman Prasejarah Arkaekum Paleozoikum Mesozoikum Neozoikum

Zaman Prasejarah Yaitu Suatu Babak Dalam Periode Sejarah Yang Belum Mengenal Tulisan Sehingga Kehidupan Masyarakatnya Sangat Sederhana. Pemenuhan Kebutuhan Hidup Masih Diperoleh Dengan Cara Berburu Dan Memungut Bahan Makanan Yang Tersedia Di Alam.

Dalam Perkembangannya, Masyarakat Prasejarah Mulai Menemukan Benda-Benda Dari Logam Untuk Bercocok Tanam. Penemuan Benda-Benda Dari Logam Ini Sekaligus Menandai Mulai Berakhirnya Zaman Prasejarah Yang Disebut Juga Zaman Protosejarah. Zaman Ini Sering Disebut Juga Zaman Nirleka Atau Zaman Pra-Aksara.

Zaman Pra-Aksara Di Indonesia Dapat Dikelompokkan Menjadi Beberapa Babak, Pada Saat Ini Kita Akan Membahas Babak Zaman Prasejarah Berdasarkan Geologi

Geologi Atau Ilmu Bumi Yaitu Ilmu Yang Mempelajari Bumi Secara Keseluruhan.

Berdasarkan Hal Ini, Terjadinya Bumi Sampai Sekarang Dibagi Ke Dalam Empat Zaman. Zaman- Zaman Tersebut Sekaligus Merupakan Pembabakan Prasejarah Yang Terdiri Dari:

A. Arkaekum

Zaman Ini Berlangsung Kira-Kira Selama 2.500 Juta Tahun. Pada Saat Itu, Kulit Bumi Masih Panas Sehingga Belum Terdapat Kehidupan.

B. Paleozoikum

Zaman Ini Berlangsung Selama 340 Juta Tahun. Makhluk Hidup Yang Muncul Pada Zaman Ini Seperti Mikro Organisme, Ikan, Amfibi, Reptil, Dan Binatang Yang Tidak Bertulang Punggung. Zaman Ini Sering Disebut Juga Zaman Primer.

Zaman Paleozoikum - Pada Zaman Paleozoikum Ini Dibagi Lagi Menjadi Lima Zaman Yaitu Zaman Kambrium, Silur, Devon, Karbon, Dan Zaman Perm.

1. Zaman Kambrium

Endapan Yang Terbentuk Pada Masa Kambrium Banyak Ditemukan Fosil Sehingga Banyaklah Yang Dapat Diketahui Tentang Keadaan Kehidupan Masa Itu. Masa Ini Ditandai Oleh Adanya Endapan-Endapan Yang Mengandung Jasad-Jasad Fosil Yang Telah Mencapai Tingkat Perkembangan Yang Tinggi, Bila Dibandingkan Dengan Yang Dijumpai Pada Masa Prakambrium. Semua Masih Hidup Terbatas Pada Air. Oleh Karena Itu, Sisa-Sisa Peninggalannya Hanya Berupa Jasad-Jasad Air, Terutama Jasad-Jasad Samudera. Contohnya Archaecyata Dan Binatang Trilobit Olenellus.

1) Archaecyatha

Peranannya Seperti Binatang Karang. Jenis Ini Banyak Membentuk Endapan-Endapan Gamping Yang Tebal. Pembentukannya Seperti Yang Dibuat Oleh Binatang Karang Sekarang Ini Di Laut-Laut Daerah Tropika. Gamping Yang Mengandung Archaecyatha Telah Banyak Ditemukan Di California, Siberia, Spanyol, Australia, Dan Lain-Lain.

2) Binatang Yang Menjadi Fosil Penunjuk Yang Terpenting Yang Pada Zaman Kambrium Adalah Trilobita, Yaitu Sebangsa Jenis Udang-Udangan Yang Berkulit Keras.

Batuan Pada Masa Kambrium Bercirikan Endapan Gamping Yang Mengandung Banyak Pirit, Sedimen Pasir, Dan Berlempung Yang Kaya Akan Fosil. Pada Masa Ini Tidak Terdapat Batas Iklim Yang Nyata, Jasad Yang Membentuk Gamping Memerlukan Air Yang Hangat. Jadi, Pada Saat Itu Iklimnya Sedang, Bahkan Panas. Masa Kambrium Ditaksir Lamanya 70 Juta Tahun.

Anggapan Yang Menyebabkan Binatang-Binatang Yang Dapat Memfosil Semakin Banyak Dan Ditemukan Sebagian Besar Di Daerah Tertentu, Misalnya Kanada Barat Sebagai Berikut.

A) Pada Masa Kambrium, Batu-Batuan Terkena Pengaruh Metamorfosa Lebih Kecil Sehingga Lapisan-Lapisan Batu-Batuan Yang Telah Diendapkan Dalam Zaman Geologi Yang Lebih Muda.

Contohnya Lempung Lemigrad Untuk Pembuatan Barang-Barang Pecah-Belah.

B) Setelah Prakambrium, Beberapa Kelompok Binatang Lebih Banyak Mempunyai Kerangka Maka Kemungkinan Untuk Memfosil Lebih Besar.

Dengan Menggunakan Fosil Maka Dapat Diketahui 3 Macam Zaman Kambrium, Yaitu Fauna Kambrium Bawah, Fauna Kambrium Tengah, Dan Fauna Kambrium Atas.

A) Fauna Kambrium Bawah

Masih Bersifat Kosmopolit, Yaitu Binatang-Binatang Masih Terdapat Di Mana-Mana Di Dunia (Trilobit Olenellus).

B) Fauna Kambrium Tengah

Sudah Terbagi Menjadi Daerah-Daerah Fauna Pasifik Dan Atlantik. Daerah Atlantik Sebagai Fosil Binatang Paradoxides (Pasifik Olenoides).

C) Fauna Kambrium Atas

Daerah Fauna Pasifik Bercirikan Diclocephalus Dan Terus Menembus Eropa-Tiongkok-Tibet Sampai Spanyol. Daerah Fauna Atlantik Bercirikan Olenus.

2. Zaman Silur

Pada Zaman Silur, Penyebaran Fauna Lebih Luas Dibandingkan Dengan Masa Kambrium. Banyak Kelompok Binatang Baru Muncul Pada Zaman Silur Ini. Di Antaranya Yang Terpenting Adalah Vertebrata Atau Binatang Bertulang Punggung. Graptalit Adalah Ciri Fosil Penujuk Pada Masa Silur Dan Merupakan Kumpulan/Kalori Binatang Kecil Yang Disebut Rabdosoma.

Sedimen Dengan Ciri Fasies Graptalit Terbentuknya Di Lautan Yang Dalam, Tetapi Kini Ternyata Kebanyakan Di Antara Lempung-Lempung Itu Diendapkan Di Lautan Yang Dangkal, Yang Kadang-Kadang Tertutup Oleh Ganggang Laut. Hal Ini Menyebabkan Laut Berwarna Hitam (Laut Hitam). Di Indonesia Zaman Silur Adalah Zaman Yang Tertua Yang Diketahui. Fosil Silur Berupa Koral Bulat Yang Bernama Halisites, Telah Banyak Ditemukan Orang Dalam Batu-Batu Lepas Dalam Suatu Sungai Di Papua.

Air Hujan Di Niagara Terjadi Pada Endapan-Endapan Silur. Iklim Pada Zaman Silur Di Mana-Mana Mengalami Panas Yang Hampir Sama Dengan Masa Kambrium. Adanya Sisa Evaporit-Evaporit Menunjukkan Adanya Iklim Yang Kering Dan Mungkin Ada Suasana Gurun.

3. Zaman Devon

Zaman Ini Bercirikan Munculnya Tumbuh-Tumbuhan Darat Dan Binatang Bertulang Punggung. Di Laut Dijumpai Perkembangan Luas Kelompok-Kelompok Binatang Yang Tidak Bertulang Punggung, Seperti Amronit. Pada Dasarnya Devon Terbagi Atas 3 Macam, Yaitu Devon Bawah, Devon Tengah, Dan Devon Atas.

Pada Umumnya Daerah Old Red Sandstone (ORS) Terdiri Atas Arkosa Konglomerat, Batu Pasir, Yang Kesemuanya Berasal Dari Perombakan Pegunungan Kaledonia. Daerah ORS Ini Meliputi Daerah Sekitar Pegunungan Kaledonia, Inggris, Skotlandia, Skandinavia, Spitsbergen, Grondalia, Hingga Jauh Melampaui Dataran Tinggi Rusia. Khusus Di Grondalia, ORS Berselang-Seling Dengan Endapan-Endapan Laut Dangkal. Demikian Pula Di Tiongkok Terdapat Endapan ORS, Terutama Di Kuangli (Karena Ada Hubungan Lautan Pada Saat Benua Eropa Dan Asia Masih Bersatu).

Pada Zaman Devon Banyak Ditemukan Lapisan-Lapisan Endapan Daratan Yang Sungguh Luas. Banyak Di Antaranya Diendapkan Dalam Sungai Atau Dalam Danau. Dalam Lapisan Banyak Ditemukan Fosil-Fosil Ikan, Demikian Pula Perkembangan Tumbuhan Daratan Baru Berarti Setelah Zaman Devon.

Pada Zaman Devon Keadaan Iklim Sangat Panas, Dan Di Daerah Tropika Banyak Hujan Disertai Tumbuhan Berkembang, Mengakibatkan Terjadinya Tanah Merah Yang Bersifat Laten. Di Samping Itu Dengan Adanya Sungai-Sungai Dan Danau-Danau, Menunjukkan Iklim Yang Agak Lembab. Di Beberapa Tempat Ditemukan Bekas-Bekas Yang Menunjukkan Adanya Gletser-Gletser Besar. Bekas-Bekas Ini Ditemukan Di Afrika Selatan,

Grondalia, Dan Amerika.

Di Indonesia Zaman Devon Hanya Dapat Ditunjukkan Di Beberapa Tempat Saja, Yaitu Dengan Adanya Heliolithes Dan Tetracoralla. Clathrodyctyon Daerah Sungai Telen Di Kalimantan Adalah Satu-Satunya Tempat Di Indonesia Yang Telah Terbukti Mempunyai Batuan-Batuan Devon.

4. Zaman Karbon

Zaman Ini Ditandai Dengan Timbulnya Sejumlah Besar Karbon Bebas Di Pelbagai Bagian Dunia. Karbon Atau Carbonium Atau Arang Ini Amat Berpengaruh Pada Keadaan Cuaca/Iklim. Pada Zaman Karbon Ini Terjadi Pembentukan Pegunungan; Hal-Hal Inilah Yang Menyebabkan Zaman Karbon Dapat Dikenal Dengan Nyata. Terjadinya Batu Bara Sangat Erat Hubungannya Dengan Pengangkatan Dan Pembentukan Pegunungan. Adanya Karang Menunjukkan Iklim Sedang Yang Agak Panas; Adanya Sedimen Klasika Yang Berwarna Merah Dengan Rekah Kerut Menandakan Iklim Kering/Arid.

Adanya Tumbuh-Tumbuhan Dengan Daun Yang Cukup Rindang Menunjukkan Adanya Pelembagaan. Tidak Adanya Lingkaran Tahun Pada Batang-Batang Serta Tumbuh Terus, Menunjukkan Tidak Adanya Perbedaan Yang Menyolok. Endapan Batu Bara Yang Berwarna Merah Menunjukkan Peninggalan Yang Kering Dan Gersang.

Perkembangan Naptelia, Amfibia Yang Muncul Pada Zaman Devon Mengalami Perkembangan Pesat, Demikian Pula Perkembangan Serangga, Lebah, Dan Lipan. Serangga Pada Zaman Ini Ialah Pemakan Daging/Bangkai. Pada Tempat Di Mana Karbon Diendapkan Sebagai Lapisan Dasar Laut, Di Sana Dijumpai Karang/Koral Dalam Jumlah Yang Besar. Perkembangan Tumbuhan (Paku/Pakis, Kawat/Sumbar Batu) Lebih Nyata Dibandingkan Dengan Binatang Bertulang Punggung.

5. Zaman Perm

Ciri-Ciri Perm Ialah Bahwa Letak Lapisan Yang Diskor Dan Di Atas Karbon Mengandung Batu Bara, Juga Adanya Penyimpangan Fauna Laut Dari 2 Karbon Fosil Pada Zaman Paleozoikum Akhir.

Di Indonesia Peninggalan Perm Ditemukan Di Timor Pada Lembah Sungai Noil, Besi Di Miaffo Timor Barat Daya Berupa Lapisan Lava-Lava Bantal (Kegiatan Vulkanik). Di Sumatera Berupa Gamping Dan Koral Disertai Dengan Batuan Dari Gunung Berapi. Lapisan Perm Mengandung Minyak, Koalium (Bahan Porselin), Lempung Keramik, Besi, Dan Batu Bara.

Pada Umumnya Dalam Sejarah Bumi Ditemukan Kaidah-Kaidah Sebagai Berikut.

A. Bila Perbedaan Tinggi Topografi Tidak Seberapa Dan Terdapat Genangan Laut Yang Luas Maka Akan Terdapat Iklim Yang Agak Panas Dan Merata Di Bagian Bumi Yang Luas.

B. Bila Perbedaan Tinggi Topografi Besar, Yaitu Selama Sesudah Ada Orogenese Atau Pengangkatan Pegunungan Yang Meluas Di Seluruh Dunia, Ada Pembagian Iklim Dalam Beberapa Daerah, Yaitu Iklim Kutub, Sedang, Kering, Gersang, Dan Iklim Hujan Tropis.

C. Mesozoikum

Zaman Ini Berlangsung Kira-Kira Selama 140 Juta Tahun Terdiri Atas Zaman Kapur, Jura, Dan Trias. Pada Zaman Pertengahan Ini, Jenis Reptil Mencapai Tingkat Yang Terbesar Sehingga Pada Zaman Ini Sering Disebut Juga Dengan Zaman Reptil. Zaman Ini Sering Disebut Juga Zaman Sekunder Atau Zaman Hidup Pertengahan. Setelah Berakhirnya Zaman Ini, Maka Muncul Kehidupan Yang Lain, Yaitu Jenis Burung Dan Binatang Menyusui Yang Masih Rendah Sekali Tingkatannya. Adapun Jenis Reptilnya Mengalami Kepunahan. Tumbuh-Tumbuhan Berdaun Lebar, Binatang Melata, Amfibi

Keadaan Iklim Pada Waktu Itu Adalah Panas Dan Basah. Hal Ini Dapat Diketahui Dengan Adanya Pertumbuhan Dan Perkembangan Flora Dan Fauna Yang Ada Pada Saat Itu. Pada Zaman Ini Mulai Timbul Dan Berkembang Tumbuh-Tumbuhan Berdaun Lebar, Binatang Melata, Amfibi, Dan Ikan Serta Binatang Menyusui Pertama. Kehidupan Flora Dan Fauna Penyebarannya Terbatas.

Zaman Kenozoikum

Masa Kenozoikum Disebut Juga Masa Neozoikum, Terdiri Atas Zaman Tersier Dan Kwartir Dan Merupakan Tingkat Kehidupan Baru.

A. Zaman Tersier

Zaman Tersier Terbagi Menjadi Zaman Eosen, Oligosen, Dan Pleiosen. Zaman Eosen Berumur 70 Juta, Oligosen 42 Juta Tahun, Miosen 30 Juta Tahun, Dan Pleiosen 16 Juta Tahun.

Pada Zaman Tersier Tumbuh-Tumbuhan Berkembang Biak Dan Meluas Ke Seluruh Wilayah Kontinen, Demikian Juga Mulai Timbul Dan Berkembang, Tumbuh-Tumbuhan Berbunga. Binatang Menyusui Dan Burung-Burung Mulai Meluas Pada Zaman Ini. Keadaan Iklim Tidak Begitu Berbeda Dengan Zaman Sekunder. Pada Zaman Ini Batu Bara Muda Mulai Terbentuk.

B. Zaman Kwartir

Zaman Kwartir Terdiri Atas Zaman Pleistosen Atau Dilluvium Dan Zaman Holosen Atau Alluvium. Kedua Zaman Ini Berumur Kurang Lebih 3 Juta Tahun Yang Lalu. Pada Zaman Kwartir Telah Muncul Manusia Pertama.

D. Neozoikum

Zaman Ini Sering Disebut Juga Zaman Hidup Baru Yang Dapat Dibedakan Menjadi Dua Zaman, Yaitu:

1. Tersier Atau Zaman Ketiga

Zaman Ini Berlangsung Kira-Kira Selama 60 Juta Tahun. Zaman Ini Ditandai Dengan Berkembangnya Jenis Binatang Menyusui Seperti Kera.

2. Kuartier Atau Zaman Keempat

Zaman Ini Ditandai Dengan Adanya Kehidupan Manusia Sehingga Merupakan Zaman Terpenting.  Zaman Ini Dibagi Lagi Menjadi Dua Zaman, Yaitu Zaman Pleistocen Dan Holocen.

A. Zaman Pleistocen Atau Dilluvium Berlangsung Kira-Kira Selama 600.000 Tahun Yang Ditandai Dengan Adanya Manusia Purba.

B. Zaman Holocen Atau Alluvium Berlangsung Kira-Kira Selama 20.000 Tahun Yang Lalu Dan Terus Berkembang Sampai Dewasa Ini. Pada Zaman Ini, Ditandai Dengan Munculnya Manusia Jenis Homo Sapiens Yang Memiliki Ciri-Ciri Seperti Manusia Yang Hidup Pada Zaman Modern Sekarang

Jadi Kesimpulanya, Dari Masa Paleozoikum Dan Prakambrium Dapat Disimpulkan Beberapa Hal, Yakni Sebagai Berikut.

A. Pada Zaman Azoikum Dapat Dikatakan Belum Ada Kehidupan Sama Sekali, Barulah Pada Zaman Protonozoikum Mulai Ada Kehidupan.

B. Pada Zaman Paleozoikum Mulai Ada Fosil-Fosil Baik Berasal Dari Flora Maupun Fauna.

C. Pada Zaman Paleozoikum Dapat Disebut Mulai Ada Tingkat Kehidupan. Pada Saat Itu Mulai Timbul Berbagai Kehidupan Seperti Tumbuhan Daratan Pertama, Trolobita, Ikan, Ubur-Ubur, Di Mana Tingkat Kehidupan Masih Sangat Sederhana.





Zaman Sejarah Pembentukan Bumi

Zaman Mesozoikum

Mesozoikum (Bahasa Yunani: μεσο, meso, "antara" dan ζωον, zoon, "hewan" atau berarti "hewan pertengahan") adalah salah satu dari tiga era geologi pada eon Fanerozoikum. Pembagian waktu menjadi era ini diawali oleh Giovanni Arduino pada abad ke-18, walaupun nama asli yang diberikannya untuk Mesozoikum adalah Sekunder (menjadikan era modern menjadi Tersier). Era yang berlangsung antara Paleozoikum dan Kenozoikum ini sering pula disebut Zaman Kehidupan Pertengahan atau Zaman Dinosaurus, mengikuti nama fauna yang dominan pada masa itu.


Mesozoikum ditandai dengan aktivitas tektonik, iklim, dan evolusi. Benua-benua secara perlahan mengalami pergeseran dari saling menyatu satu sama lain menjadi seperti keadaannya saat ini. Pergeseran ini menimbulkan spesiasi dan berbagai perkembangan evolusi penting lainnya. Iklim hangat yang terjadi sepanjang periode juga memegang peranan penting bagi evolusi dan diversifikasi spesies hewan baru. Pada akhir zaman ini, dasar-dasar kehidupan modern terbentuk.
Mesozoikum berlangsung kurang lebih selama 180 juta tahun, antara 251 hingga 65 juta tahun yang lalu. Era ini dibagi menjadi tiga periode: Trias, Jura, dan Kapur.

Trias adalah suatu periode dalam skala waktu geologi yang berlangsung antara 251 ± 0,4 hingga 199,6 ± 0,6 juta tahun yang lalu. Periode ini berlangsung setelah Permian dan diikuti oleh Jura. Awal dan akhir periode Trias masing-masing ditandai dengan peristiwa kepunahan besar. Peristiwa kepunahan yang mengakhiri periode Trias baru-baru ini berhasil ditentukan waktunya secara lebih akurat, tapi sebagaimana halnya dengan periode geologi lain yang lebih tua, lapisan batuan yang mencirikan awal dan akhir teridentifikasi dengan baik, tapi waktu persis awal dan akhir periode ini memiliki ketidakpastian sebanyak beberapa juta tahun.
Semasa periode Trias, kehidupan laut dan daratan menunjukkan sebaran adaptif yang dimulai dengan biosfer yang sangat miskin setelah peristiwa kepunahan Permian-Trias. Karang dari kelompok Zoantharia muncul untuk pertama kalinya. Tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) mungkin mulai berkembang pada periode Trias, seperti juga vertebrata terbang pertama, pterosaurus.

Jura adalah suatu periode utama dalam skala waktu geologi yang berlangsung antara 199,6 ± 0,6 hingga 145,4 ± 4,0 juta tahun yang lalu, setelah periode Trias dan mendahului periode Kapur. Lapisan batuan yang mencirikan awal dan akhir periode ini teridentifikasi dengan baik, tapi waktu tepatnya tidak dapat dipastikan antara 5 hingga 10 juta tahun. Jura merupakan periode pertengahan era Mesozoikum, yang dikenal juga dengan "Zaman Dinosaurus". Awal periode ini ditandai dengan peristiwa kepunahan Trias-Jura.
Nama periode ini diberikan oleh Alexandre Brogniart berdasarkan banyaknya batu kapur laut yang ditemukan di Pegunungan Jura, di daerah pertemuan Jerman, Perancis, dan Swiss.


Periode Kapur atau Cretaceous adalah salah satu periode pada skala waktu geologi yang bermula pada akhir periode Jura dan berlangsung hingga awal Paleosen atau sekitar 145.5 ± 4.0 hingga 65.5 ± 0.3 juta tahun yang lalu. Periode ini merupakan periode geologi yang paling lama dan mencakup hampir setengah dari era Mesozoikum. Akhir periode ini menandai batas antara Mesozoikum dan Kenozoikum.
Periode ini ditandai sebagai suatu periode terpisah pertama kali oleh ahli geologi Belgia, Jean d'Omalius d'Halloy, pada tahun 1822 dengan menggunakan stratum di Basin Paris dan mendapat namanya berdasarkan banyaknya lapisan kapur (kalsium karbonat yang terbentuk oleh cangkang invertebrata laut, terutama coccolith) yang ditemukan pada periode Kapur Akhir di Eropa daratan dan Kepulauan Britania.

 

Gunung Toba

Gunung Toba adalah gunung api raksasa yaitu gunung aktif dalam kategori sangat besar, diperkirakan meletus terakhir sekitar 74.000 tahun lalu.

Bukti ilmiah

Pada tahun 1939, geolog Belanda Van Bemmelen melaporkan, Danau Toba, yang panjangnya 100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan gunung. Karena itu, Van Bemmelen menyimpulkan, Toba adalah sebuah gunung berapi. Belakangan, beberapa peneliti lain menemukan debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba di Malaysia, bahkan juga sejauh 3.000 kilometer ke utara hingga India Tengah.
Beberapa ahli kelautan pun melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Benggala. Para peneliti awal, Van Bemmelen juga Aldiss dan Ghazali (1984) telah menduga Toba tercipta lewat sebuah letusan mahadahsyat. Namun peneliti lain, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), serta Nishimura (1984), menduga kaldera itu tercipta lewat beberapa kali letusan. Peneliti lebih baru, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan Rose (1991), memberikan perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa.
Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa yang sedang tidur itu. Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi dari Indonesia, seismolog pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Sarjana fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih gelar doktor dari Renssealer Polytechnic Institute, New York, pada 1998, untuk penelitiannya mengenai Toba.

Berada di tiga lempeng tektonik

Letak Gunung Toba (kini: Danau Toba), di Indonesia memang rawan bencana. Hal ini terkait dengan posisi Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng Eurasia, yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda.
Lempeng benua ini hidup, setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya dengan jarak tertentu. Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua selalu jadi sasaran. Lempeng Indo-Australia misalnya menumbuk lempeng Eurasia sejauh 7 cm per tahun. Atau Lempeng Pasifik yang bergeser secara relatif terhadap lempeng Eurasia sejauh 11 cm per tahun. Dari pergeseran itu, muncullah rangkaian gunung, termasuk gunung berapi Toba.
Jika ada tumbukan, lempeng lautan yang mengandung lapisan sedimen menyusup di bawahnya lempeng benua. Proses ini lantas dinamakan subduksi atau penyusupan.
Gunung hasil subduksi, salah satunya Gunung Toba. Meski sekarang tak lagi berbentuk gunung, sisa-sisa kedasahyatan letusannya masih tampak hingga saat ini. Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar tiga kali yang pertama 840 ribu tahun lalu dan yang terakhir 74.000 tahun lalu. Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas 100 km x 30 km persegi. Daerah yang tersisa kemudian membentuk kaldera. Di tengahnya kemudian muncul Pulau Samosir.

Letusan

Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali.
  • Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.
  • Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat.
  • Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.
Gunung Toba ini tergolong Supervolcano. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali. Volcano biasa rata-rata kalderanya ratusan meter, sedangkan Supervolcano dapat mencapai puluhan kilometer.
Yang menarik adalah terjadinya anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu tempat dengan lainnya akan memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunyai massa, ketinggian dan kerelatifan yang sama. Jika ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka gaya tariknya berbeda. Bayangkan gunung meletus. Banyak materi yang keluar, artinya kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang. Lalu yang terjadi up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan. Dia sudah tidak punya daya untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi. Ini terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Hanya Samosir yang terangkat karena daerah itu yang terlemah. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera.

Letusan Gunung Toba Dan Legenda Danau Toba

 

Tinjauan


Danau Toba di Sumatera Utara diperkirakan terbentuk sekitar 74.000 tahun yang lalu dari hasil letusan supervolcano (gunung api super). Ketika terjadi ledakan ini, sekitar wilayah tersebut luluh lantah disapu oleh muntahan meteorit dan debu vulkaniknya yang menyebar ke separuh belahan dunia dari China sampai ke Afrika Selatan. Kedahsyatan letusan Gunung Toba dikabarkan menyebabkan matahari tertutup selama 6 tahun. Letusan Gunung Toba ini bahkan hampir memusnahkan umat manusia di sekitarannya saat itu.
Berdasarkan catatan jurnal “Nature Geoscience” 25 Mei 2010 disebutkan bahwa letusan Gunung Toba merupakan salah satu letusan gunung api terbesar di dunia. Danau Toba berasal yang dari letusan Gunung Toba yang memiliki kantong magma besar sehingga jika meletus maka kalderanya besar sekali. Gunung Toba yang berada di dasar Danau Toba diperkirakan masih dapat meletus hingga saat ini. Gunung Toba memiliki anak gunung yaitu Gunung Sibayak.

Dalam sejarahnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali yaitu pertama sekitar 800 ribu tahun lalu yang menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea. Kemudian letusan kedua yang lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu dan membentuk kaldera di utara Danau Toba yaitu di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dahsyat pada 74.000 tahun yang lalu menghasilkan kaldera besar dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.

Letusan gunung tersebut berlangsung selama satu minggu dan letusan debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut. Bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung tersebut sebanyak 2.800 km³ yang terdiri dari materi batuan dan abu vulkanik dan terbawa angin ke arah barat selama dua minggu. Letusan gunung ini memakan korban sampai 60% dari jumlah populasi manusia di bumi pada saat itu. Selain itu juga memusnahkan beberapa spesies hewan dan mengubah pola kehidupan manusia saat itu. Bahkan letusan gunung ini dianggap beberapa ahli memicu terjadinya zaman es dan mempengaruhi cuaca bumi.
Danau Toba adalah danau berkawah yang sangat besar, pusat pulaunya di tengah danau tersebut sangat seluas. Dengan luas 1.145 kilometer persegi, Danau Toba sebenarnya lebih menyerupai lautan daripada danau. Adapun keberadaan Pulau Samosir, berasal dari hasil tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar sehingga menyebabkan munculnya Pulau Samosir. Danau Toba adalah danau terluas di Asia Tenggara dan terdalam di dunia sekitar 450 meter. Danau bertipe vulkanik ini merupakan danau terbesar kedua di dunia sesudah Danau Victoria di Afrika. Saat ini letusan Gunung Toba telah menyebabkan timbulnya Danau Toba yang memiliki pemandangan sangat indah.

Seiring penjelasan ilmiah mengenai Danau Toba, ada beberapa cerita rakyat setempat tentang asal-usul Danau Toba. Salah satunya adalah legenda yang menyertai keberadaannya tentang seorang pemuda miskin bernama Toba yang hidupnya bertani dan menangkap ikan. Suatu hari ia menangkap seekor ikan mas ajaib yang dapat berbicara sebagaimana layaknya manusia. Bingung dengan bentuknya yang tidak biasa, kemudian dia membawanya pulang dan ternyata ikan tersebut berubah bentuk menjadi seorang gadis cantik. Ikan ini dikutuk karena melanggar aturan yang dibuat oleh para dewa sehingga mengubahnya menjadi seekor ikan. Si gadis yang berubah bentuk dari ikan itu meminta Toba agar tidak akan membocorkan rahasiannya itu. Toba bersedia memegang janji menyimpan rahasia itu asalkan si gadis mau menikah dengannya. Setelah disetujui maka Toba menikahinya dan gadis itu diberi nama Mina. Keduanya hidup rukun bahagia meski miskin dan memiliki seorang putra yang diberi nama Samosir.

Suatu hari, Toba diperintahkan ibunya mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya. Mulanya dia menolak. Akan tetapi, karena terus dipaksa maka dengan kesal ia mengantarkannya. Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk pauk itu dimakan Samosir akibatnya setibanya di ladang pun terlambat.

Toba marah pada anaknya tersebut dan karena terlambat dan menerima makanan yang tinggal sedikit. Toba memukul anaknya sambil mengatakan, “Anak kurang ajar, betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!”.

Seketika itu juga sang anak sambil menangis pergi menemui ibunya dan menanyakan apakah benar dirinya adalah anak keturunan ikan. Mendengar hal tersebut, sang ibu pun terkejut karena suaminya telah melanggar janjinya. Mina kemudian melompat ke dalam sungai dan berubah kembali menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itu pun meluapkan banjir besar dan turun hujan sangat lebat sehingga tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir air, Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam. Desa sekitarnya terendam air yang meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga dan akhirnya membentuk danau raksasa yang dikenal dengan nama Danau Toba, sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.

Ternyata, Ledakan Gunung Toba Terdahsyat Dalam Sejarah - Awal Danau Toba

BECAK SIANTAR | Ternyata, Ledakan Gunung Toba Terdahsyat Dalam Sejarah
- Siapa yang tidak kenal dengan Danau Toba, ternyata Danau Toba berasal dari letusan Gunung Toba. Gunung Toba ini tergolong Supervolcano, hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali. Volcano kalderanya ratusan meter, sedangkan Supervolacano itu puluhan kilometer.


Gunung Toba berada di bawah dasar Danau Toba Sumatera Utara, yang sewaktu - waktu di perkirakan dapat meletus. Gunung Toba sampai saat ini masih memiliki anak, bahkan Gunung Sinabung yang beberapa waktu lalu meletus dan Gunung Sibayak, merupakan anak dari Gunung Toba.

Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali :
  • Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.
  • Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat.
  • Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.


Letusan Gunung Toba merupakan letusan gunung berapi yang paling dahsyat yang pernah diketahui di planet Bumi ini. Dan hampir memusnahkan generasi umat manusia di planet Bumi. 73.000 tahun yang lalu letusan dari supervolcano di Indonesia hampir memusnahkan seluruh umat manusia, hanya sedikit yang selamat. Kedahsyatan letusan gunung Toba memang sangat terkenal dan merupakan 3 besar letusan volcano terdahsyat di planet bumi. Dan dikabarkan juga matahari sampai tertutup selama 6 tahun.

Letusan ini tidak bisa dibandingkan dengan apapun yang telah dialami di bumi sejak masa dimana manusia bisa berjalan tegak. Dibandingkan dengan SuperVolcano Toba, bahkan krakatau yang menyebabkan sepuluh ribu korban jiwa pada 1883 hanyalah sebuah sendawa kecil. Padahal krakatau memiliki daya ledak setara dengan 150 megaton TNT. Sebagai perbandingan: ledakan Bom Nuklir hiroshima hanya memiliki daya ledak 0,015 megaton, dan secara lisan maka daya musnahnya 10.000 kali lebih lemah dibanding krakatau. Letusan Gunung toba hampir memusnahkan umat manusia 73.00 tahun yang lalu.

Bersamaan dengan gelombang besar tsunami, ada 2.800 kilometer kubik abu yang dikeluarkan, yang menyebar ke seluruh atmosfir bumi kita. Yang mungkin telah mengurangi jumlah populasi manusia menjadi hanya sekitar 5000 sampai 10000 manusia saja.

Sebenarnya manusia jaman sekarang berasal dari beberapa ribu manusia yang selamat dari letusan super volcano Toba 73.000 tahun yang lalu

Oleh karena itu Gunung berapi di Indonesia bertanggung jawab atas hampir musnahnya umat manusia. Dan Dari 60 hingga 70 gunung berapi yang dapat ditemuai di area tersebut (Indonesia) sekarang.

Beberapa diantaranya menjadi aktif kembali dalam beberapa bulan maupun beberapa minggu setelah gempa di dasarlaut pada bulan desember 2004.

Letusan Gunung Toba ini, yang menyebabkan timbulnya Danau Toba, yang merupakan danau terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara dan memiliki pemandangan yang begitu indah. Di tengah danau ini ada satu pulau yang di sebut dengan Pulau Samosir, yang merupakan asal mulanya suku Batak berada.

Kedahsyatan Terbentuknya Danau Toba Di Masa Lampau
Danau yang bernama Toba ini, menghampar dengan indah dan permai di wilayah Sumatra Utara. Namun dibalik itu, di masa yang lampau, daya rusak yang Maha Dahsyat tersembunyi di dalamnya. Sekitar kurang lebih 74.000 tahun lalu, Gunung Toba meletus sangat hebat dan nyaris menamatkan umat manusia.


Kedahsyatan letusan gunung api raksasa (supervolcano) Toba itu, bersumber dari gejolak bawah bumi yang hiperaktif. Lempeng lautan Indo-Australia yang mengandung lapisan sedimen menunjam di bawah lempeng benua Eurasia, tempat duduknya Pulau Sumatera, dengan kecepatan 7 sentimeter per tahun.

Gesekan dua lempeng di kedalaman sekitar 150 kilometer di bawah bumi itu menciptakan panas yang melelehkan bebatuan, lalu naik ke atas sebagai magma. Semakin banyak sedimen yang masuk ke dalam, semakin banyak sumber magmanya.

Kantong magma Toba yang meraksasa tersebut, disuplai oleh banyaknya lelehan sedimen lempeng benua yang hiperaktif. Kolaborasi tiga peneliti dari German Center for Geosciences (GFZ) dengan Danny Hilman dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Fauzi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2010 lalu menyimpulkan, bahwa di bawah Kaldera Toba terdapat dua dapur magma yang terpisah.

Dapur magma ini diperkirakan memiliki volume sedikitnya 34.000 kilometer kubik yang mengonfirmasi banyaknya magma yang pernah dikeluarkan oleh gunung ini sebelumnya.

Tak hanya dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dari dapur magma, Kaldera Toba ternyata juga sangat dipengaruhi oleh kegiatan tektonik yang mengimpitnya, sehingga kalangan geolog menyebutnya sebagai vulkano-tektonik.

Tumbukan lempeng bumi yang sangat kuat dari lempeng Indo-Australia, telah memicu terbentuknya sesar geser besar yang disebut sebagai Zona Sesar Besar Sumatera (Sumatera Fault Zone/SFZ). Sesar ini memanjang hingga 1.700 kilometer dari Teluk Lampung, hingga Aceh. Hampir semua gunung berapi di Sumatera berdiri di atas sesar raksasa ini.

Uniknya, Kaldera Toba tidak berada persis di atas sesar ini. Dia menyimpang beberapa kilometer ke sebelah timur laut sesar Sumatera. ”Di antara Sungai Barumun dan Sungai Wampu, Pegunungan Barisan (yang berdiri di atas sesar) tiba-tiba melebar dan terjadi pengangkatan dari bawah yang membentuk dataran tinggi; panjangnya 275 km dan lebar 150 km yang disebut Batak Tumor,” papar Van Bemmelen, geolog Belanda yang pada 1939 untuk pertama kali mengemukakan bahwa Toba adalah gunung api.

Pengangkatan Batak Tumor ini, disebut Bemmelen, menjadi fase awal pembentukan Gunung Toba. Saat pembubungan terjadi, sebagian magma keluar melalui retakan awal membentuk tubuh gunung. Jejak awal tubuh gunung ini masih terlihat di sekitar Haranggaol, Tongging, dan Silalahi. Sementara sebagian besar lainnya telah musnah saat terjadinya letusan Toba terbaru sekitar 74.000 tahun lalu (Youngest Toba Tuff/YTT).

Danau Toba jelas terpengaruh oleh gaya sesar ini. Bentuk Danau Toba yang memanjang, bukan bulat sebagaimana lazimnya kaldera, menunjukkan dia terpengaruh dengan gaya sesar geser yang berimpit di kawasan ini.


Sisi terpanjang danau, yang mencapai 90 km, sejajar dengan Zona Sesar Sumatera, yang merupakan salah satu patahan teraktif di dunia selain Patahan San Andreas di Amerika. Aktivitas gunung berapi di Sumatera, termasuk Toba, dikontrol oleh patahan ini.

Sumber: Mesin Pencari Google - Dari Berbagai Sumber

Selasa, 29 April 2014

Penghuni Pertama di Asia Tenggara (Proto Malayan)

Sukubangsa Proto Malayan sudah ada sejak 7000 tahun SM (BC) atau sekitar 9000 tahun yang lalu. Hidup dalam satu kesatuan sukubangsa yang terisolasi di dataran tinggi Indochina, tepatnya di dataran tinggi Yunan, hidup dan berkembang menjadi suatu populasi yang besar hidup berkelompok, berladang dan berburu selama ribuan tahun. Dataran tinggi Yunan adalah suatu daerah yang subur dan terisolasi di pegunungan.
Namun pada 5000 - 2000 tahun SM (BC), bangsa Mongol yang suka berperang mulai melebarkan daerah jajahan di wilayah Asia daratan dan secara perlahan memasuki dataran tinggi Yunan. Bangsa Mongol merampas berbagai wilayah dan mendesak Sukubangsa Proto Malayan. Akibat agresi dari bangsa Mongol ini, sukubangsa Proto Malayan terdesak ke pesisir. Tetapi di pesisir mereka juga mendapat tekanan dari bangsa Syan yang sudah lebih dahulu berada disana, mereka sempat bertahan beberapa abad, tetapi dengan masuknya bangsa Arya-Dravidian dengan pasukan militernya membuat mereka terpecahbelah.

Sekelompok orang naik ke pegunungan di Formosa Taiwan, dan membentuk komunitas yang disebut sebagai Suku Tayal.

Kelompok lain menuju perbatasan Thailand dan Burma membentuk komunitas yang dinamakan Suku Karen dan ada juga kelompok yang bertahan di sepanjang Sungai Mekong yang membentuk komunitas bernama Suku Meo.

Sedangkan yang mencoba bertahan di pesisir pada akhirnya harus menyeberang lautan dan tersebar ke segala penjuru Asia Tenggara sampai ke wilayah Asia Pasifik hingga Samudra Hindia dalam jumlah besar.

Sebagian kelompok mendarat di kepulauan-kepulauan lepas pantai sebelah barat Sumatra. Di sana membentuk beberapa komunitas 'Rumpun Batak Pulau' yang terdiri dari Suku Enggano, Suku Mentawai, Suku Nias dan Suku Simalur.

Kelompok lain mendarat di Barus dan membentuk suatu komunitas yang kemudian menjadi cikal bakal Rumpun Batak (lihat postingan Suku Batak).
Selain itu dari kelompok ini ada juga yang meneruskan perjalanan ke pedalaman hutan Sumatra, terpecah dalam beberapa kelompok masuk ke pedalaman hutan Sumatra bagian tengah (Riau, Sumatra Barat dan Jambi). Diduga salah satunya adalah Suku Anak Dalam.

Kelompok lain mendarat di kepulauan Riau dan membentuk beberapa komunitas kecil serta mengisolasi diri di pulau-pulau terpencil. Komunitas-komunitas ini terdiri dari Suku Utan di pulau Rempang. Suku Anak Laut di pulau Batam, Suku Sakai, Suku Sawang dan Suku Akit di pulau Bengkalis.

Kelompok lainnya mendarat di Sumatra bagian selatan yang terbagi atas 3 kelompok, yaitu satu kelompok menuju Danau Ranau dan disebut sebagai suku Abung, Kelompok kedua bertahan di lampung dan membentuk komunitas yang disebut sebagai suku Lampung. Kelompok ketiga menuju Danau Ranau dan membentuk suku Komering dan suku Daya. Konon menurut cerita masyarakat Lampung, dari kelompok terakhir ini sebagian memisahkan diri dan meneruskan perjalanan ke Danau Toba, inilah yang menjadi cikal bakal suku Toba (Batak). Ini ditambahkan dengan adanya kemiripan bahasa antara kelompok-kelompok ini (lihat postingan Suku Lampung).

Selain itu dari kelompok yang menyusuri garis pantai Sumatra bagian barat mendarat di Kalimantan sebelah selatan, membentuk komunitas bernama Suku Ma'anyan. Suku Ma'anyan ini banyak memiliki kemiripan bahasa dan dialek dengan 'Rumpun Batak Pulau'. Saat ini Suku Ma'anyan dikenal dengan sebutan sebagai Suku Dayak Ma'anyan.
.
Sedangkan sukubangsa Proto Malayan yang memotong jalur laut mendarat di Kalimantan sebelah barat datang dalam jumlah besar langsung menyebar di seluruh wilayah Kalimantan, membentuk komunitas-komunitas yang semuanya dikenal sebagai Suku Dayak.

Penyebaran lain ada yang mendarat di Pulau Lombok yang dikenal sebagai Suku Sasak, tetapi karena pengaruh masuknya Hindu dan Islam, budaya Proto Malayan yang diusungnya secara perlahan terkikis, tetapi kalau dilihat dari beberapa peninggalan sejarah membuktikan Suku Sasak dahulunya pengusung budaya Proto Malayan.

Dalam penyebaran Proto Malayan ada yang sampai ke Sulawesi dan membentuk komunitas yang bernama Suku Toraja, dimana budaya, rumah adat, pakaian, warna dan dialek sangat akrab dengan rumpun suku Toba (Batak).

Proto Malayan berikutnya yang mendarat di Sulawesi adalah Suku Wajo, yang punya hubungan kuat dengan suku-suku terpencil di kepulauan wilayah Riau, Suku Bajau di Kalimantan dan Suku Laut di Malaysia dan Burma. Keahlian suku ini di laut terbentuk karena sempat bertahan lama di pesisir Indochina selama beberapa abad. Sebagian kecil dari kelompok ini meneruskan perjalanan hingga ke Madagascar.

Penyebaran Sukubangsa Proto Malayan terus terjadi hingga ke Filipina, dan membentuk suatu komunitas yang bernama Suku Bontoc. Para peneliti beranggapan Suku Bontoc merupakan kelompok Proto Malayan yang menyusuri garis pantai barat Sumatra yang sebagian mendarat di pulau-pulau sebelah barat Sumatra, mendarat di Kalimantan bagian selatan dan sebagian kecil meneruskan perjalanan ke Filipina serta sisanya terus hingga sampai Madagascar. Bahasa suku Bontoc mirip dengan bahasa suku Dayak Ma'anyan di Kalimantan.

Sedangkan kelompok Proto Malayan lain mendarat di Filipina membentuk komunitas yang bernama suku Igorot. Dari kelompok ini ada yang memisahkan diri dan mengisolasi diri di pegunungan dan dikenal sebagai suku Batac dan menetap di wilayah Palawan. Bahasa suku Igorot ini sangat mirip dengan bahasa Toba (Batak).

Penyebaran Sukubangsa Proto Malayan ini terus ke beberapa kepulauan Pasifik hingga ke Lautan Hindia dan Kepulauan Andaman dan Nicobar.

diolah dari berbagai sumber

11 Benua Yang Hilang

Sebelum ada benua-benua yang ada seperti yang sekarang ini, pada puluhan ribuan tahun yang lalu pernah ada benua yang dihuni oleh peradaban maju, tentunya semua ini berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para peneliti.

Sebuah benua yang hilang adalah daratan hipotetis yang karena suatu alasan tidak ada lagi. Seperti yang umum diketahui adalah Atlantis, menurut mitos Yunani, tenggelam di dasar laut. Begitu juga masih banyak dugaan tentang benua lain selain Atlantis.

Berikut adalah daftar 11 benua hilang:

1. Gondwana (600 - 30 juta tahun yang lalu)

lokasi benua gondwana
Gondwana adalah benua raksasa di belahan bumi selatan yang merupakan daratan luas yang terbentuk dari massa daratan benua Antartika, Afrika,Amerika Selatan, Australia, pulau Irian, Selandia Baru, Kaledonia Baru, India dan Madagaskar pada masa kini. (benua raksasa lainnya, Laurasia, yang berada pada belahan bumi utara, merupakan daratan luas yang terbentuk dari massa daratan benua Asia, Eropa dan Amerika Utara pada masa kini).

Walaupun Gondwana terletak pada wilayah Antartika pada masa kini, namun iklimnya pada masa tersebut lebih hangat dengan banyak macam varietas flora dan fauna selama jutaan tahun. Hal itu dimungkinkan karena pada masa Mesozoik, iklim rata-rata dunia pada masa tersebut lebih hangat dibanding sekarang.

Supercontinent mulai terpecah pecah pada masa Jura (Jurassic) (sekitar 160 juta tahun yang lampau), diawali dengan benua Afrika terpisah menuju arah utara secara perlahan. Kemudian blok daratan besar, yang saat ini dikenal sebagai anak benua India, memisahkan diri dari supercontinent pada masa Kapur (Cretaceous) awal sekitar 125 juta tahun yang lampau. Daratan berikut yang memisahkan diri adalah yang dikenal sekarang sebagai Selandia Baru, pada masa sekitar 80 juta tahun yang lampau; diikuti daratan benua Australia dan pulau Irian bergerak menuju arah utara sekitar 55 juta tahun yang lampau.

2. Laurasia (300 - 60 juta tahun lalu)
Laurasia adalah superkontinen yang terpisah dari Pangæan supercontinent pada masa mesozoik akhir sekitar 200 juta tahun yang lalu. Laurasia merupakan dataran di belahan utara bumi yang terdiri dari Eurasia (benua Asia dan Eropa) dan Amerika Utara.
Dataran superkontinen pecahan dari Pangæan supercontinent di belahan selatan bumi pada masa itu disebut sebagai Gondwana.

3. Pannotia (550 juta tahun yang lalu)
benua Pannotia
Pannotia, yang pertama kali dideskripsikan oleh Ian W. D. Dalziel pada tahun 1997, merupakan benua super hipotetis yang ada dari masa orogeni Pan-Afrika atau sekitar enam ratus juta tahun yang lalu hingga akhir masa Prakambrium atau sekitar lima ratus lima puluh juta tahun yang lalu. Benua ini juga dikenal dengan nama benua super Vendia. Pannotia pecah menjadi Laurentia, Siberia, Baltica, dan Gondwana.





4. Pangea (300 - 180 juta tahun yang lalu)
benua raksasa Pangea
Pangea atau Pangaea adalah super benua yang ada selama era akhir Paleozoikum dan awal Mesozoikum, terbentuk sekitar 300 juta tahun yang lalu. Mulai retak sekitar 200 juta tahun yang lalu, sebelum komponen benua dipisahkan menjadi konfigurasi mereka saat ini. Lautan global tunggal yang dikelilingi Pangea yang sesuai bernama Panthalassa.

Nama Pangea berasal dari Yunani Kuno yang berarti, (πᾶν) pan "seluruh" dan Gaia (Γαῖα) yang berarti "bumi." Nama itu diciptakan pada simposium 1.927 dibahas Alfred Wegener teori pergeseran benua. Dalam bukunya The Origin of Continents and Oceans (Die Entstehung der Kontinente und Ozeane), pertama kali diterbitkan pada tahun 1915, ia menduga bahwa semua benua pada satu waktu pernah membentuk super benua tunggal yang ia sebut "Urkontinent", sebelum kemudian putus dan hanyut ke lokasi mereka saat ini.

5. Rodinia (1.1 - 750 juta tahun lalu)
Rodinia adalah superbenua tertua yang jejak geologinya masih bisa dilacak oleh para ahli geologi. Superkontinen ini jauh lebih tua daripada Pangea, tetapi masih lebih muda daripada superbenua Columbia (1800-1500 juta tahun) dan Vaalbara (3600 juta tahun). Walaupun lebih muda, Rodinia dipercayai bukan hanya sebuah hipotesis lagi, tetapi betul-betul pernah ada.
Nama Rodinia sendiri dipopulerkan oleh Dalziel (1991), Moores (1991) dan Hoffman (1991). Rodinia adalah kata dalam bahasa Rusia yang berarti “motherland” (tanah ibu/leluhur). Konon, Rodinia mulai terbentuk sekitar 1400 juta tahun yang lalu (Ma), pada saat 3 sampai 4 benua mulai menyatu. Konon lagi, pada sekitar 1000 Ma Rodinia ini sudah jelas terkonsolidasi, yang ditunjukkan oleh pembentukan sebuah rangkaian pegunungan. Para ahli menyebut proses pembentukan rangkaian pegunungan itu dengan nama Grenville Orogeny. Rodinia terbentuk sekitar 1.3 miliar tahun lalu dari tiga atau empat benua.

6. Lemuria
(sebuah garis kemungkinan Lemuria
melapis ke atas pulau-pulau di Pasifik)
Lemuria sempat diperkirakan ada keterkaitan dengan benua Mu, sebuah kisah dari sebuah benua di samudra Pasifik yang hilang di bawah air, kadang dikaitkan juga dengan kisah benua Atlantis.

Pendapat bervariasi tentang keberadaan benua Lemuria ini. Suatu pendapat mengatakan bahwa benua Lemuria ini tepat berada di samudra Pasifik, yang bertetangga dengan Indonesia di masa lalu. Raja David Kalakaua menegaskan sebuah peta yang menunjukkan daratan Pacific besar dan lain daratan di samudera Hindia. Sebagian besar setuju bahwa wilayah Pasifik utara diperpanjang atas masa lalu Hawai'i, timur Pulau Paskah dan ke barat setidaknya Micronesia masa lalu. Selanjutnya, legenda mengatakan bahwa daerah yang sekarang dikenal sebagai kepulauan Hawaii adalah ibukota kabupaten tanah ini.

Ada beberapa bukti mengejutkan dari sebuah peradaban maju pra-migrasi orang Polinesia. Diketahui bahwa Polinesia di zaman sejarah hanya memiliki kemampuan dasar untuk membentuk batu. Mereka tidak memiliki kemampuan yang dikenal untuk memotong batu. Namun ditemukan beberapa batu dipotong datar, berlekuk, atau tepatnya dipasang di seluruh Pasifik. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang siapa melakukan pekerjaan dan mereka punya teknologi yang luar biasa.

7. Benua Mu
peta ilustrasi benua Mu sebelah kiri
Mu adalah nama sebuah benua yang pernah diyakini pernah ada di salah satu lautan bumi, tetapi menghilang pada awal sejarah manusia.

Konsep dan nama itu diusulkan oleh Traveler pada abad 19 dan penulis Augustus Le Plongeon, yang mengklaim bahwa beberapa peradaban kuno, seperti Mesir dan Mesoamerika, diciptakan oleh pengungsi dari benua Mu, yang terletak di Samudera Atlantik. Konsep ini dipopulerkan dan dikembangkan oleh James Churchward, yang menegaskan bahwa Mu pernah terletak di Pasifik.

Keberadaan Mu sudah menjadi perdebatan ketika dilanjutkan oleh Le Plongeon. Le Plongeon mengklaim bahwa peradaban Mesir kuno didirikan oleh Ratu Moo, seorang pengungsi dari benua Mu. Pengungsi lain diduga melarikan diri ke Amerika Tengah dan menjadi bangsa Maya

Saat ini, para ilmuwan universal menolak konsep benua Mu (dan benua hilang lain seperti Lemuria) secara fisik tidak mungkin, karena benua tidak dapat tenggelam atau hancur dalam waktu singkat dibutuhkan oleh premis ini. Benua Mu sekarang hanyalah dianggap sebagai suatu tempat fiktif belaka.

8. Benua Atlantis
benua Atlantis
citra satelit Santorini
Atlantis, Atalantis, atau Atlantika (Yunani: Ἀτλαντὶς νῆσος), yang berarti pulau Atlas, adalah pulau legendaris yang pertama kali disebut oleh Plato dalam buku Timaeus dan Critias.

Dalam catatannya, Plato menulis bahwa Atlantis terhampar "di seberang pilar-pilar Herkules", dan memiliki angkatan laut yang menaklukkan Eropa Barat dan Afrika sekitar 9.000 tahun sebelum waktu Solon, atau sekitar tahun 9500 SM. Setelah gagal menyerang Yunani, Atlantis tenggelam ke dalam samudra "hanya dalam waktu satu hari satu malam".

Peta Atlantis 
menurut Arysio Santos

dalam bukunya Atlantis

The Lost Continent Finally Found 

terletak di Indonesia
Banyak filsuf kuno menganggap Atlantis sebagai kisah fiksi, termasuk (menurut Strabo) Aristoteles. Namun, terdapat filsuf, ahli geografi dan sejarawan yang percaya akan keberadaan Atlantis. Filsuf Crantor, murid dari murid Plato, Xenocrates, mencoba menemukan bukti keberadaan Atlantis. Karyanya, komentar mengenai Timaeus, hilang, tetapi sejarawan kuno lainnya, Proclus, melaporkan bahwa Crantor berkelana ke Mesir dan menemukan kolom dengan sejarah Atlantis tertulis dalam huruf heroglif. Plato tidak pernah menyebut kolom tersebut. Menurut filsuf Yunani, Solon melihat kisah Atlantis dalam sumber yang berbeda yang dapat "diambil untuk diberikan".

Dari cerita dikatakan bahwa Atlantis adalah sebuah kerajaan yang sangat berkuasa, dan kekuasaan meliputi hampir separuh daratan benua eropa dan benua amerika.

Beberapa hipotesis merupakan hipotesis arkeologi atau ilmiah, sementara lainnya berdasarkan fisika atau lainnya. Banyak tempat usulan yang memiliki kemiripan karakteristik dengan kisah Atlantis (air, bencana besar, periode waktu yang relevan).

Beberapa dugaan sebagai lokasi Atlantis adalah:
- Al-Andalus
- Kreta dan Santorini
- Turki
- Di dekat Siprus
- Timur Tengah
- Malta
- Sardinia
- Troya
- Antarktika
- Australia
- Kepulauan Azores
- Tepi Bahama dan Karibia
- Bolivia
- Laut Hitam
- Inggris
- Irlandia
- Kepulauan Canary dan Tanjung Verde
- Denmark
- Finlandia
- Indonesia
- Isla de la Juventud dekat Kuba
- Meksiko
- Laut Utara
- Estremadura, Portugal
- Swedia

Tapi dari semua dugaan di atas, yang paling diyakini benua Atlantis berada di tengah Segitiga Bermuda. Menurut Prof. Arysio Nunes Dos Santos, dalam bukunya Atlantis, dikatakan bahwa benua Atlantis beserta kebudayaannya berada di kepulauan Indonesia. Tapi bangsa apakah yang hidup di Indonesia pada masa ribuan tahun sebelum masehi ? apakah itu bangsa protomalayan seperti toraja, dayak dan batak ?

9. Hyperborea
perkiraan letak benua Hyperborea
Hyperboreans (Yunani Kuno: Ὑπερβόρε (ι) οι, diucapkan [hyperbóre (ː) ɔi̯], Latin: Hyperborei), adalah sebuah daerah yang tidak ditentukan di tanah utara yang terletak di luar angin utara. Tanah mereka, yang disebut Hyperborea atau Hyperboria, "luar Boreas", adalah menunjukkan lokasi yang mungkin dalam Lingkaran Arktik.

Tanah Hyperborea berasal dari 450 SM. Tanah itu diduga lebih jauh ke utara dari yang lain dan rumah bagi Hyperboreans, suatu tempat yang dihuni oleh ras raksasa.

Dari yang diketahui, Hyperborea adalah suatu daerah yang termasuk dalam rencana invasi tentara Atlantis, tapi mereka mundur karena dihadang oleh pasukan raksasa.

Keberadaan Hyperborea ditentang sepanjang jaman dahulu, meskipun ada beberapa bukti untuk mendukung bahwa itu didasarkan pada sebuah penemuan yang sebenarnya. Di Hyperborea dikatakan matahari bersinar selama 24 jam, dan ini diduga berada di Lingkaran Arktik. Jadi Hyperborea dianggap Siberia atau mungkin jauh-utara jangkauan Cina. Sementara itu, Robert Charroux menyatakan bahwa Hyperborea adalah suatu tempat terdingin.

10. Thule
Thule sebagai Tile pada Marina Carta oleh Olaus Magnus,
terletak di sebelah barat utara pulau Orkney,
dengan "rakasa, yang terlihat pada tahun 1537",
ikan paus ("balena"), dan orca dekatnya.
Thule, Thula, Thila atau Thyilea (Yunani: Θούλη, Thoulē), adalah, dalam literatur Eropa klasik dan peta, sebuah daerah di utara jauh. Sering dianggap hanya sebagai sebuah pulau di zaman kuno, interpretasi modern dari apa yang dimaksudkan oleh Thule sering diidentifikasikan sebagai Norwegia, identifikasi didukung oleh perhitungan modern. Interpretasi lain termasuk Orkney, Shetland, dan Skandinavia. Pada abad pertengahan akhir dan Renaissance, Thule sering diidentifikasi sebagai Islandia atau Greenland. Lokasi lain yang disarankan adalah Saaremaa di Laut Baltik. The ultima Istilah Thule di geografi abad pertengahan menunjukkan setiap tempat yang jauh terletak di luar "batas dunia yang dikenal". Kadang-kadang digunakan sebagai kata benda (Ultima Thule) sebagai nama Latin untuk Greenland Thule ketika digunakan untuk Islandia.
Pytheas seorang penjelajah Yunani, pada perjalanannya antara 330 SM dan 320 SM, dikirim oleh Massalia, adalah orang pertama yang menulis tentang tanah Thule, sebuah utara pulau Britania. Menurut tulisan-tulisannya (yang hanya bertahan dalam bentuk fragmen direferensikan oleh sejarawan lain) itu berlayar enam hari dan merupakan utara terjauh dari pulau-pulau yang dikenal, menempatkannya di Lingkaran Arktik.

Penulis klasik lain, Orosius (384-420 AD) dan biarawan Irlandia Dicuil (akhir abad ke-9 dan ke-8 awal), menggambarkan Thule sebagai Utara dan Barat dari kedua Irlandia dan Inggris. Dicuil menggambarkan Thule sebagai melampaui pulau-pulau yang tampaknya menjadi Faroes, sangat menyarankan Islandia. Dalam tulisan-tulisan para sejarawan Procopius, dari paruh pertama abad ke-6, Thule merupakan sebuah pulau besar di utara dihuni oleh 25 suku bangsa. Hal ini diyakini bahwa Procopius benar-benar berbicara tentang bagian dari Skandinavia, karena beberapa suku mudah diidentifikasi, termasuk Geats (Gautoi) di masa kini-hari Swedia dan Saami (Scrithiphini). Dia juga menulis bahwa ketika Heruls kembali, mereka melewati Varni dan Denmark dan kemudian menyeberang laut ke Thule, di mana mereka menetap di samping Geats.

11. Kumari Kandam
Kumari Kandam
oleh para peneliti barat
sering dianggap sebagai Lemuria
Kumari Kandam adalah suatu kerajaan pada suatu benua yang tenggelam. Kumari Kandam ini sering dibandingkan dengan Lemuria (G. Devaneyan, Tamil:).

Epik Cilappatikaram dan Manimekalai mendeskripsikan kota Puhar yang tenggelam. Dravidia berasal dari daerah selatan yang kini adalah pantai India selatan yang tenggelam karena banjir. Terdapat berbagai klaim pengarang Tamil bahwa terdapat daratan besar yang menghubungkan Australia dengan pantai Tamil Nadu.

Beberapa benua lain, yaitu:
  1. Euramerica (300 juta tahun lalu)
  2. Nuna, juga dikenal sebagai Columbia (1.8 - 1.5 bya tahun yang lalu)
  3. Nena (1.8 bya)
  4. Kenorland (2.7 bya tahun lalu, Neoarchean sanukitoid cratons dan kerak benua baru membentuk Kenorland. Gempa magmatektonik yang berkepanjangan terjadi pada 2.48 to 2.45 bya dan mengakibatkan Peristiwa gletser Paleoproterozoic yang terjadi pada 2.45 sampai 2.22 bya. Pembentukan terakhir terjadi pada 2.1 bya).
  5. Ur (3 bya tahun lalu, Diklasifisikasikan sebagai daratan tertua yang diketahui. Ur, mungkin adalah benua terbesar di dunia, karena hanya satu-satunya benua 3 triliun tahun lalu.. Walaupun bukan superbenua, Ur dianggap sebagai superbenua saat itu, walaupun luasnya lebih kecil dari Australia saat ini. Sampai sekarang, formasi batu lama dari Ur, berlokasi di Greenland sejak zaman Hadean).
  6. Komatii Formation (3.4 bya)
  7. Vaalbara (3.6 bya tahun lalu)
  8. Yilgarn
Beberapa tempat lain yang sempat dianggap benua dan peradaban yang hilang, tapi kemudian pendapat ini berubah karena tidak memenuhi syarat untuk disebut sebuah benua, yaitu:
  1. Lyonesse
  2. Meropis
  3. Ys
  4. Vineta
  5. Númenor
sumber: