Jumat, 23 Oktober 2015

Lewo Raja Serambi Mekah NTT

LEWOLEBA, FBC-Haruslah diakui bahwa perjalanan dari Lewoleba menuju desa Lebala, cukup menguras kenyamanan fisik. Sebuah perjalanan yang mencerminkan betapa masih belum meratanya akses jalan yang baik untuk desa-desa terpencil. Setidaknya itu yang saya alami pada Jumat (12/7/2013).

Akibat kondisi jalan yang buruk, sehingga perjalanan dari Lewoleba, (Ibukota Kabupaten Lembata) menuju kampung Lebala, jika menggunakan kendaraan sepeda motor bisa memakan waktu sekitar 3 jam.

Setelah melewati berbagai rintangan, akhirnya sekitar pukul 6.30 petang kami tiba di Kampung Lebala atau dikenal juga dengan Desa Lewo Raja.

Lebala terletak di kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata. Gemuruh ombak laut selatan terdengar membahana seakan menyambut kedatangan kami. Bagian utara kampung ini, di bentengi tebing tinggi menjulang.

Pemukiman kampung di ujung pesisir selatan Pulau Lomblen itu, tertata apik. Rumah-rumah penduduk ditata tepat di pesisir pantai. Wajah-wajah bersahaja dan lembut menyapa kami yang berjalan menenteng kamera dan tas ransel di pundak.

Suara Azan dari Langgar dan surau kecil-kecil di tepi jalan menuju Desa Lewo Raja sungguh menggambarkan, kami sedang berada di kampung Islam, serambi Mekkah NTT dari Lembata.


Kepala Tongkat Berbahan Emas Milik Kerajaan Lebala belambang Ratu Belanda Wilhelmina II, dan Kalung emas peninggalan kerajaan Lebala. (Foto : FBC/Yogi Making- Gambar diambil Jumat, 12/7/2013
Dari Desa Leworaja, bekas Kerajaan Lebala inilah, orang Lembata mengenal agama Islam yang menyebar hingga saat ini. Bekas Kerajaan Lebala inipun dijuluki “Serambi Mekkah NTT”.

Meski Jumlah penduduk di Lembata kebanyakan Katolik, namun Islam di Lembata semakin hari semakin berkembang dalam nuansa damai, berdampingan dengan umat beragama lain.

Kepala Kementrian Agama Kabupaten Lembata, Dorothia Nahak, Minggu (14/7/2013) menjelaskan data pemeluk Agama di Lembata tahun 2012, dari Total 124.736 penduduk Lembata, jumlah pemeluk agama Katholik, 87.271, Islam 35.469. Kristen 1.920, Hindu 73, Budha 3.

“Meski Lebala memulai penyebaran agama Islam namun Kantong Muslim di Lembata terbanyak di wilayah Kedang, Nubatukan dan paling sedikit di Kecamatan Wulandoni,” ujar Nahak. Bersambung (Yogi Making)

Menelusuri Jejak Islam Di Kepulauan Solor

Kupang, NU Online
Saat ini, wilayah kepulauan Solor yang terdiri atas Pulau Solor, Pulau Adonara, Pulau Lembata, Pantar, Alor dan beberapa pulau kecil di sekitarnya, lebih dipengaruhi oleh kebudayaan Katolik.

Tetapi siapa kira, kalau kawasan yang meliputi tiga Kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, pernah mendapat pengaruh kuat dari beberapa kerajaan Islam di Maluku, Jawa dan Sulawesi sejak abad ke-15.

Seorang sosiolog dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Drs. Syarifuddin Gomang, MHons, dalam sebuah tulisannya, menghubungkan perkembangan di gugusan kepulauan itu dengan perkembangan salah satu kerajaan Islam di timur yakni Ternate.

Tersebutlah, pengganti Sultan Baabullah yang membalas kematian ayahnya Sultan Hairun, yang dibunuh Portugis, dengan mengepung Portugis dalam benteng di Ternate dan mengambil alih benteng pada tahun 1574.

Dalam puncak kejayaan itulah, Sultan Baabullah mendapat pengakuan kedaulatan dari masyarakat di 72 pulau, termasuk Kepulauan Solor.

Dari dokumen Portugis, Gomang mengungkapkan, Sultan Baabullah mengutus keponakannya bernama Kaichili Ulan ke Pulau Buru di Maluku, merekrut orang-orang dan mempersiapkan perahu untuk penyerangan ke Lohayong, sebuah basis pertahanan Portugis di Pulau Solor.

Rencana serangan itu, atas permintaan bantuan dari Solor untuk menyerang orang Portugis di Benteng Lohayong.

Dalam pelayaran Kaichili Ulan ke Solor tersebut, ikut pula banyak bangsawan Ternate dan pengikut mereka yang kemudian menetap di beberapa pulau di NTT. Di antara mereka terkenal nama Sultan Syarif Sahar dan isterinya, Syarifah, yang menetap di Pulau Solor dan nantinya memimpin orang Solor bertempur melawan Portugis, setelah bersekutu dengan VOC atau kongsi dagang Belanda yang bersaing dengan Portugis.

Tokoh ini, kemudian ikut pindah ke Kupang di Pulau Timor, ketika VOC memindahkan pusat kedudukan dari Solor ke Kupang pada tahun 1657. Di Kupang, Sultan Syarif lebih dikenal dengan nama Atu Laganama dan menjadi penyebar agama Islam pertama di sekitar Batu Besi, Kupang. Diduga, kedatangan Atu Laganama ini menandai migrasi pertama orang Islam Solor ke Kupang, sehingga sampai kini di ibukota Provinsi NTT itu, masih ada Kelurahan Solor.

Sebagian dari pasukan Kaichili Ulan, tidak hanya menetap di Pulau Solor, tetapi juga pulau-pulau lain mulai dari Flores Timur sampai ke Kabupaten Alor.

Karena itu, di Alor terdapat sebuah pulau bernama Pulau Ternate, sementara mereka yang menetap di Flores Timur antara lain dari klen Gogo, Likur dan Maloko. Bahkan, seorang ulama dari Ternate bernama Usman Barkat, menjadi tokoh penyebar agama Islam.

Di Blang Merang, Alor, pun sudah ada kampung Maluku pada abad ke-15, yang dihuni penduduk beragama Islam. Pada abad ke-17, gugusan kepulauan Solor dikabarkan resmi menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Ternate yang berubah menjadi kerajaan Islam pada tahun 1683.

Kerajaan Islam

Penelitian lain yang dilakukan dosen Undana, Drs. Munandjar Widyatmika menyebut, pada tahun 1680 Lohayong di Solor merupakan sebuah kerajaan Islam yang memiliki supremasi terhadap kerajaan Islam lainnya.

Saat itu, Lohayong di Solor diperintah oleh seorang ratu bernama, Nyai Chili Muda, yang pada tahun 1663 mengirim surat kepada Gubernur Jenderal VOC di Batavia, memohon agak dikirimkan gading berukuran besar yang dijadikan bantal di kala ia wafat nanti.

Ia juga menyebut, Kedang sebuah wilayah di timur Pulau Lembata merupakan bagian dari Kerajaan Ternate, sementara di selatan Pulau Lembata juga terdapat sebuah kerajaan Islam yakni Lebala dengan raja terakhir Ibrahim Baha Manyeli.

Sementara Solor telah diduduki VOC sejak tahun 1646, tetapi Sultan Ternate baru resmi menyerahkan kepada Solor pada tahun 1683.

Pada saat yang sama, di Kalikur Kedang, Lembata terdapat klen Honi Ero yang berasal dari Seram, sedangkan raja Adonara di Pulau Adonara, masih keturunan dari Ternate.

Bahkan, Gomang dan Widyatmika menyebut, tidak diketahui pasti, siapa pendiri kerajaan Lohayong Islam di Solor, yang jelas pada masa Kerajaan Majapahit memperluas wilayah kekuasaan dalam kerangka persatuan Nusantara sejak tahun 1357 dengan menaklukkan Dompo di Nusa Tenggara Barat (NTB) di bawah Laksamana Nala.

Kemudian Lohayong Solor yang strategis dijadikan salah satu pusat kedudukan pasukan Majapahit.

Karena letaknya yang strategis, Lohayong di bawah pengaruh pedagang Islam dari Jawa dan Sulawesi, diduga pada waktu itu agama Islam telah berkembang di Lohayong Solor. Gomang dan Widyatmika menyebut tiga pilar kekuatan Islam pasca keruntuhan Majapahit, yakni Gresik, Gowa dan Ternate.

Gresik disebut-sebut telah mempunyai pengaruh di Solor, sebelum militer Portugis membangun benteng pada tahun 1566. Pelabuhan Solor dijadikan transit bagi perdagangan kayu cendana sebelum dijual ke Cina dan India.

Demikian pula Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan, telah menjadi kerajaan Islam tahun 1605, di mana raja beserta perdana menteri pada tahun 1626 melakukan ekspedisi ke timur, termasuk ke Solor dan Timor.

Dari rangkaian pengaruh Islam dari Jawa, Sulawesi dan Ternate Maluku tersebut, hingga kini beberapa perkampungan di lima pantai di Solor, Adonara dan Lembata atau lebih dikenal dengan "Solor Watan Lema" dikenal sebagai perkampungan muslim hingga kini.

Kelima kampung itu adalah, Lohayong dan Lamakera di Solor, Lamahala dan Terong di Adonara dan Lebala di Lembata.

Dari tempat-tempat itulah, Islam tersebar ke berbagai tempat terutama di pedalaman Solor, Adonara dan Lembata, namun umumnya di Kepulauan Solor, umat Islam umumnya menempati daerah pesisir mulai dari Pulau Solor, Adonara, Lembata, Pantar, Alor dan pulau-pulau kecil di sekitarnya dan menjadikan kawasan itu salah satu daerah muslim di Nusa Tenggara Timur (NTT). (ant/mad)

Sejarah Masuknya Islam Di Lamakera

Penulis: Ahmad Yohan

Kepercayaan Masyarakat Sebelum Datangnya Islam
Kepercayaan nenek moyang masyarakat Lamakera sebelum kedatangan Islam adalah animisme. Sebagaimana masyarakat lainnya di wilayah Flores Timur, masyarakat Lamakera meyakini akan adanya kekuatan di luar diri manusia yang berkuasa, dan mempunyai wewenang untuk menentukan nasib baik dan buruk manusia. Keyakinan akan adanya kekuatan itu telah membentuk cara berfikir dan perilaku masyarakat Lamakera dalam mensikapi kehidupannya sehari-hari. Kekuatan yang sangat disakralkan itu adalah Rera Wulan Tanah Ekang[1] atau Tuhan Matahari, Bulan dan Tanah Air.
Upacara ritual keagamaan dilakukan di Kokar Bale yang berfungsi sebagai rumah ibadah dan tempat para sesepuh adat bermusyawarah mengenai suatu masalah atau persoalan-persoalan penting tentang urusan agama dan adat, yang kemudian hasilnya disampaikan kepada seluruh masyarakat. Upacara peribadatan dilakukan dengan penyembelihan hewan kurban seperti sapi, kerbau atau kambing untuk diletakkan di atas altar berupa batu hitam yang diberi nama Nuba Nara.[2]
Penyembelihan hewan kurban pada saat itu merupakan kewajiban para pemeluknya yang dilaksanakan dalam rangka pengabdian si hamba kepada sang penguasa atau zat yang diyakini dapat mendatangkan nasib baik dan akan mengabulkan keinginan si hamba. Hal ini biasanya dilakukan ketika masyarakat Lamakera hendak memulai bercocok tanam atau turun ke laut untuk menangkap ikan.[3]
     Masuknya Agama Islam
Seperti di kawasan Indonesia pada umumnya, awal masuknya Islam di Nusa Tenggara Timur melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang dan ulama. Pada abad XV, banyak para pedagang Islam dari berbagai wilayah di Nusantara, seperti para pedagang dari pulau Jawa, Sumatera dan Bugis Makasar yang melakukan perdagangan dan atau menyinggahi berbagai wilayah di Nusa Tenggara Timur sebagai tempat transit sebelum meneruskan pelayaran ke Maluku, Makasar ataupun ke bandar-bandar di pulau Jawa.[4]
Karena faktor tersebut agama Islam paling awal masuk di wilayah Nusa Tenggara Timur adalah di sekitar bandar-bandar strategis yang banyak dikunjungi para pedagang Islam. Tempat-tempat tersebut antara lain : Pulau Solor, Pulau Ende, Pulau Alor, Kota Kupang, dan pesisir utara Sumba Barat.[5]
Dari bandar-bandar strategis di atas, Pulau Solor merupakan tempat yang paling strategis bila ditinjau dari segi perdagangan karena berada pada posisi silang pelayaran dari bandar di pulau Jawa, Sumatera, Makasar ke Maluku atau sebaliknya, dari bandar-bandar di pulau Jawa, Sumatera, Makasar ke pulau Timor dan dari bandar di Makasar ke pantai utara Australia. Di samping itu di Lamakera terdapat pelabuhan alam yang bagus dan aman sebagai tempat persinggahan kapal dalam rangka menunggu cuaca dan angin yang tepat untuk berlayar. Itulah sebabnya Lamakera yang terletak di ujung timur pulau Solor sebagai tempat yang paling banyak dikunjungi para pedagang dan pelaut Islam dan merupakan salah satu tempat di NTT yang paling awal menerima agama Islam.[6]
Keberuntungan yang disebabkan oleh letak yang strategis dalam jalur perdagangan serta tersedianya pelabuhan alam yang aman telah menjadikan masyarakat Lamakera sebagai komunitas yang terbuka untuk menerima segala hal baru yang dibawa para pedagang yang hilir mudik tersebut. Apalagi tradisi raja Lamakera pada saat itu, adalah mengundang dan menjamu setiap saudagar dari luar yang singgah untuk berdagang dan atau sekedar berteduh dari gangguan musim angin yang kencang. Keramahan tuan rumah seperti yang dicontohkan sang raja tersebut, merupakan kesempatan yang baik bagi para pedagang Islam, untuk lebih mudah memperkenalkan Islam kepada penguasa dan masyarakat Lamakera.[7]
Sekitar abad ke XV, seorang pedagang dari Palembang bernama Syahbudin bin Ali bin Salman Al Farisyi atau yang kemudian dikenal juga dengan Sultan Menanga, merupakan salah seorang tokoh perintis penyebaran agama Islam. Tokoh ini oleh Raja Sangaji Dasi diberi izin menetap di wilayah perbatasan antara kerajaan Lamakera dan Lohayong. Di sana ia mendirikan perkampungan Islam yang diberi nama Menanga. Melalui pendekatan kekeluargaan, tokoh ini berhasil menjadi menantu kerajaan dengan mengawini putri dari adik Raja Sangaji Dasi.[8] Pada saat bersamaan, ia juga berhasil meng-Islam-kan Raja Sangaji Dasi. Dengan keberhasilan meng-Islam-kan tokoh kunci yakni raja dan keluarganya, maka semakin lancarlah upaya penyebaran agama Islam bagi pengikut dan rakyat di kerajaan tersebut. kemudian pada tahun 1628, dibangunlah sebuah surau bagi pendukung pembinaan penyebaran agama Islam di Lamakera. Tokoh lain yang juga menjadi perintis penyebaran agama Islam di Pulau Solor adalah seorang ulama dari Ternate (Maluku) bernama Sutan Sahar dan istrinya yang bernama Syarifah al Mansyur.[9]
Kecerdasan para pedagang dan ulama dalam menjelaskan ajaran Islam kepada penguasa dan masyarakat Lamakera, telah membuat Islam begitu mudah diterima dan dalam waktu yang tidak begitu lama penguasa dan masyarakat Lamakera yang sebelumnya merupakan penyembah Rera Wulan Tanah Ekang, menjadi penganut Islam yang taat.
            Penyebaran Agama Islam
Doktrin agama yang mewajibkan kepada setiap pemeluknya untuk menyampaikan suatu kebenaran walaupun hanya berupa satu kata kepada orang yang belum mengetahuinya menjadi landasan etik bagi penyebaran agama Islam. Karena penyebaran agama Islam di wilayah Nusa Tenggara Timur melalui jalan perdagangan, maka Lamakera sebagai salah satu pelabuhan yang paling sering disinggahi kapal dagang, menjadi tempat yang mempunyai peluang besar untuk bertemu dengan ajaran Islam. Kesempatan ini digunakan dengan baik oleh para saudagar untuk menyampaikan kebenaran Islam dengan cara yang efektif yakni dakwah bil hal.
Penyebaran Islam di Lamakera dapat berjalan dengan baik dan cepat diterima oleh masyarakat Lamakera karena Sultan Menanga berhasil meng-Islam-kan Raja Sangaji Dasi. Sepeninggal Sultan Mananga, maka untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim, penyebaran agama Islam selanjutnya dilaksanakan oleh raja dan dibantu oleh Sultan Syarif Sahar.
Walaupun raja mempunyai kekuasaan dan wewenang yang kuat untuk memerintahkan masyarakatnya, namun dalam hal penyebaran agama Islam tetap dilakukan baik, arif dan bijaksana dengan seruan-seruan yang baik tanpa kekerasan serta pemaksaan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa Raja Sangaji Dasi yang pada saat itu berkuasa, adalah tokoh yang disegani, ditaati dan mempunyai kharisma serta pengaruh yang sangat luas hingga seluruh wilayah Solor Timur, namun masih ada masyarakat di daerah-daerah kekuasaannya tetap menyembah Rera Wulan Tanah Ekang dan baru memeluk ajaran Islam setelah Indonesia merdeka, terutama setelah berkembangnya pendidikan agama Islam di Solor Timur.[10]




[1] Abdul Sahar KS, “Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Lamakera”, Thesis Sarjana Pendidikan, (Kupang: Univ. Nusa Cendana, 1981), h. 46
[2] Ibid.
[3] Ibid
[4] Munanjar Widiyatmika, Sejarah Agama Islam di Nusa Tenggara Timur, (Kupang: ICMI Orwil NTT, 1995), h. 22
[5] Ibid.                                                                                                                                                    
[6] Ibid.
[7] Abd. Sahar KS., op. cit., h. 53-58.
[8] Ibid., h. 59.
[9] Munanjar Widiyatmika, op. cit., h. 22-23.
[10] Abd. Sahar KS., op. cit., h. 62-64.

Masuknya Islam Di Lamahala

MASUKNYA AGAMA ISLAM DI LAMAHALA
Oleh : H. Syamsudin Abdullah

Untuk dapat maemberikan gambaran tentang sejarah masuknya agama Islam di Lamahala -+ abad 14. Baik sebagai akibat dari adanya mubalig Islam yang menyebar agama Islam bagi bangsa Indonesia umumnya dan Lamahala Flores Timur khususnya.
Sejak abad ke-14 agama Islam masuk di Lamahala dibawah ole pedagang Islam dari semenjanjung Malaka, Pulau Andalas (Pulau Sumatera) dan Pulau Jawa dan Cina, penyebaran ini disebut EXPEDISI SINA JAWA. Kemudian berbicara mengenai masuknya agama Islam di Lamahala Flores Timur, berarti terlebih dahulu mengenal nama-nama Mubalig yang membawa agama Islam itu dan dari mana tempat asalnya, dan ciri-ciri khas apa yang menjadi pendukungnya sehingga dapat diyakini atas kebenarannya. Sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W, “ Balligu Anni Walau Aayat” (sampaikanlah kepadaku walaupun satu ayat).
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa didalam tulisan masuknya agama Islam di Lamahala ini masih terbatas pada kondisi global yang dapat penulis tangkap baik melalui cerita-cerita rakyat, studi kepustakaan, hasil wawancara dan tatap muka dengan tokoh-tokoh yang penulis anggap memiliki informasi sejarah Islam maupun sejarah penalaran dan pengetahuan yang penulis miliki dalam membahas dan mengkaji kisah-kisah dalam tulisan ini.
Dibawah ini penulis mencantumkan nama-nama pedagang dan mubalig dari tempat asalnya antara lain :

 1. RAJA PATI PELANG ( FATAHUDDIN) berasal dari negeri Batak, Puak Lali Muara yang artinya tempatnya Lali Muara. Expedisi Raja Pati Pelang dengan membawa perahu Paledang bernama BAGA bahasa Batak artinya Cantik Molek. Berlayar meninggalkan danau Toba mengarungi lautan menuju Indonesia Timur tiba di Flores Timur menanti angin dan arus kemudian menerima 2 (dua) orang dari Flores Timur yang bernama Igo dan Wotan Ulumando menaiki perahu itu dan akhirnya expedisi Raja Pati Pelang tiba di Lamahala dengan selamat dan menempati tempat yang dipandang cocok diberi nama istana Al-Wahar.
Tempat kedudukan Raja Pati Pelang rumah adatnya di rehab kembali dan sekarang masih dijaga oleh anak cucunya atau ahli warisnya. Raja Pati Pelang nama panggilannya adalah FATAHUDDIN bahasa arab artinya Pembukaan Agama. Jadi dengan data ini dapat diambil kesimpulan dalam pemahaman bahwa mula-mula masuknya agama Islam di Lamahala di bawa oleh Raja Pati Pelang (Fatahuddin) berasal dari Andalas (Sumatera) puaknya suku Batak.

2. RAJA SIRA DEMONG (SIRAJUDDIN), berasal dari pulau Samosir marganya Siregar Jalan Asam Kandis, expedisi Raja Sira Demong dengan membawa perahu Lete-lete (Sope) bernama Tena Wulung Kumhang arti dari bahasa Indonesianya yakni perahu yang cat dilehernya berwarna Kuning melambangkan kemuliaan dan ketinggian derajat dan martabat seseorang dari tempat asalnya serta melambangkan kesucian jiwa dalam menyebarkan Dinul Islam ditempat mana yang cocok dengan ide dan cita-citanya, kemudian berlayarlah Raja Sira Demong meninggalkan pula Samosir mengarungi lautan luas menuju Indonesia Timur dan tibalah didaratan pesisir pantai Omesuri pelabuhan kampung Ramu berdekatan dengan desa Dulolong dan terdapat sebuah perigi/sumur yang bernama Waibelaon.
Raja Sira Demong tinggal beberapa tahun di Waibelaon namun rupanya ditempat tersebut tidak cocok dengan ide dan cita-citanya maka expedisi Raja Sira Demong berpindah tempat dengan berlayar menuju tanah Adonara. Alhamdulillah expedsi Raja Sira Demong tiba di Lamahala dan menetap di sana pada lokasi yang ia tinggal itu diberi Suku Tobi, dan nama tersebut tidak terlepas dari tempat asalnya pulau Samosir Jalan Asam Kandis.
Sira Demong nama panggilannya Sirajuddin bahasa Arab artinya pelita agama lebih tepat lagi disebut penerangan agama, karena fungsi beliau adalah mubalig Islam, aktif mengajarkan Al-Qur’an kepada umat Islam dalam suku itu sehingga nama Sira Demong mendapat julukan dengan panggilan JOU DEMONG (gurun ngaji), sekitar abad 14-15. Tidak lama kemudian datanglah expedisi dari Kawela yaitu rombongan Holokopong Namang Suku Lamuda, setibanya di Lamahala menggabungkan diri menjadi satu keluarga Suku Tobi Lamuda di bawah pimpinan Sira Demong (Jou Demong), dan menurunkan keturunannya sampai sekarang. Bahasa klasik Lamaholot mewujudkan suatu keluarga besar berbunyi Tobi Wun Bella Muda Kajak Aja, artinya buah asam pohonnya besar, limau buahnya banyak. Ini adalah kata klasik menunjukan suku Tobi Lamuda adalah gabungan dari beberapa suku pendatang dileburkan menjadi satu suku besar dan masyarakatnya yang banyak, mendiami suku Tobi Lamuda dan Jou Demong adalah Guru Besar dan banyak muridnya. Tugas adat dalam suku menjabat Kapitan Namang Tukang untuk mnenghadiri siding bersifat adat.

3. MUBALIG JAFAR ATAJAWA, menghayati akan nama Jafar Ata Jawa hal ini telah menunjukan suatu pengertian yang konkrit bahwa beliau berasal dari Jawa kerajaan Islam Demak, keturunan salah satu dari Walisongo yaitu silsilah keturunan dari Jafar Sadik. Mubalig ini bersama dengan expedisi Ratu Silimeda di Lembata=Awololon, dengan tujuan mendirikan kerajaan islam di Awololon (belolu), rupanya malang tak dapat ditolak pada lokasi awalolon mendapat bencana tanah tenggelam ke dalam laut maka tempat bencana itu diberi nama Lewoleba dengan pengertian Lewo artinya kampung dan Leba artinya tenggelam. Jadi nama Lewoleba sampai sekarang yaitu tempat bekas tanah tenggelam dalam dasar laut.
Akibat peristiwa bencana tanah tenggelam maka kerajaan Islam Lembata runtuh tenggelam tidak ada bekasnya. Dalam kepanikan peristiwa bencana itu Jafar Ata Jawa berkesempatan berusaha meloloskan dirinya dengan menaiki perahu bernama Urin Buran artinya pada buritan bercat warna putih berlayar menuju selat solor, akhirnya tiba dengan selamat dipesisir pantai Lamahala dan menetap di Lamahala pada lokasi Suku Wutun dengan nama Suku Lamakedanga. Dalam penyebaran islam Jafar Ata Jawa berfungsi sebagai staf syara’ membidangi tugas sebagai Muazzin di mesjid yang pertama kali memanggil orang datang melaksanakan sholat lima (5) waktu ( subuh, dohor, ashar, magrib dan isya ). Disamping itu juga ia berfungsi menguruskan jenasah dari mayit,bungkussholat dan kubur. Dan tugas yang diemban oleh Jafar Ata Jawa ini diwarisi oleh anak keturunannya sampai sekarang. Jafar Ata Jawa menurunkan keturunanya yaitu tiga(3) orang putra dan seorang putrid yang masing-masing bernama ANA KODA SEBANDAR AMANG, BAPAK BANAK KAMANG, KHATIB ABON NAMANG dan KEWAEKINDA.

PENYEBARAN ISLAM OLEH PEDAGANG DAN MUBALIG DARI NEGERI CINA

Expedisi dari negeri Cina adalah LEMPE dan LANGKO serta SEBANDA PITOKAE. Mereka mengarungi laut cina dengan perahu Budi Baik, nama perahu itu adalah salah satu sifat khas orang cina bermata sipit, itu diambil dari kepustakaan S. Gordon Readding, mengatakan diantaranya memperhatikan Utang Budi.
Sejak abad ke 7 di jaman Sriwijaya bahkan mungkin juga sesudahnya telah terjalin hubungan antara Cina dan Nusantara, orang Cina dikenal sebagai pedagang. Dari pantai Cina mereka berlayar dengan angin Muson Timur laut, pedagang Cina datang ke Indonesia untuk membeli Tripang, sarang burung, kulit kerang, cendana dan dari Cina mereka membawa porselin, sutra dan the. Mereka berlayar mengikuti angin muson tiba diperairan selat Solor menuju pesisir pantai Lamahala, salah satu pesisir dari Solor Watan Lema. Kehadiran expedisi Cina ini disambut oleh keluarga Mau Duli langsung turun ke darat dan menempati suatu lokasi diberi nama Suku Sina artinya kehadiran mereka berasal dari negeri Cina. Dalam sejarah perkembangan Islam dahulu kaitan Cina dengan Islam sangat dekat. Contoh Raja pertama kerajaan islam Demak Raden Patah sebenarnya orang cina bernama Seno Pati Jin Bun. Beberapa catatan sejarah menerangkan bahwa ada wali songo itu orang Cina. Dengan demikian antara cina dengan orang islam dan golongan pribumi dahulu pernah berada dalam satu kesatuan yang cukup akrab. (Siswono Judohusono hal. 62). Hal ini membawa dampak positif bagi perkembangan penyebaran Islam di Indonesia umumnya dan Lamahala Flores Timur pada khususnya.
Dengan menunjukan perbedaan cirri khas orang Cina dan Jawa berpedoman pada sebuah syair klasik Lamaholot yaitu SINA IPA BURA JAWA MAHABANGO artinya orang cina pada umumnya giginya putih bersih, orang jawa klentongnya berlidah telor. Pada expedisi dari cina ini sudah banyak melanjutkan keturunan dari dahulu sampai sekarang dari generasi ke generasi selanjutnya. Berpijak pada sejarah penulis sajikan ini maka perjalanan asalnya sampai tinggal menetap di Lamahala disebut penyebar Islam dari SINA JAWA.

PENYEBARAN ISLAM DARI SULAWESI yakni IMAM ATA KOJA

Imam Ata Koja adalah seorang mubalig islam dari Bugis Makasar tiba di Lamahala berdomisili, berdkwah dan mengajarkan agama islam berupa ibadah dan muamalah pada umat islam sedesa Lamahala. Untuk sementara Imam Koja numpang dengan Jou Sirademo, sama-sama member dakwah Islam. Dan ditugasskan sebagai Imam untuk melaksanakan sholat jamaah pada setiap waktu dan sholat jamaah pada hari jumat.
Untuk membenarkan dan meyakinkan bahwa Imam Ata Koja itu orang bugis Makasar karena beliau menggunakan bahasa bernama JENE dengan maksud mengambil air wudhu untuk sholat. Padahal Jene artinya air dalam bahasa Bugis Makasar atau Jene Bambang. Dan nama lain lagi yaitu KARAENG yang artinya Orang Bangsawan, dll. Kata-kata ini menerangkan dan menunjukan bahwa penyebar agama tersebut adalah benar orang Bugis Makasar sekitar abad ke-14. Penyebar Islam yang lain dari Sulawesi seperti :
- KESULTANAN BUTON, bapaknya Ratu Loly sekitar abad ke-15
- SENGAJI BONTO yang menjadi Raja pertama di Lamahala pada kurun waktu di zaman Portugis sekitar 1520 – 1613
- SWAUDDIN yang menjadi Raja kedua di Lamahala pada kurun waktu di zaman Belanda tahun 1613 – 1888, bertepatan dengan penyerangan Kapal GONTA oleh Kapten/Kapitan BELAE, dimasa pemerintahan Resident GREEVE, ada juga Kapal PRINSHENRIC dan Kapal NEDERLAND, yang oleh penulis menyebutnya dengan Expedisi penyebaran Islam dari BUGIS MAKASAR.

PENYEBARAN ISLAM DARI MALUKU Oleh H.SYAID SERAN

Beliau adalah Mubalig Islam yang tiba di Lamahala pada abad ke-16, expedisi H. Syaid Seran ini membawa perahu bernama SAPINAHTU SYARKIYAH yang artinya Perahu dari Timur. Berlayar meninggalkan kota Seran mengarungi lautan Maluku menuju pulau Wetar menembus selat Munaseli menuju pulau Lembata dan berlayar bersama arus Wato Woko lewat selat Boleng akhirnya berlabuh di Wato Buku tanjung Lamakera, beristirahat menjelang Subuh untuk menuaikan sholat Shubuh.
Tidak lama kemudian datang sebuah perahu dari Lamahala yang dipimpin oleh seorang Nahkoda bernama KABIDALOTAMA, asal Lamahala yang disuruh oleh Imam Ata Koja untuk menjemput expedisi H. Syaid Seran dan diterima oleh Imam Ata Koja dan Jou Sirademo. Dalam suasana syahdu mereka ( pihak H. Syaid Seran dan Imam Ata Koja ) berdiskusi dan berdialog tentang Ibadah dan Muamalah serta hokum-hukum Islam dan semuanya sama-sama memiliki ilmu Syariat tersebut. Hanya kelebihan dari H. Syaid Seran adalah telah menunaikan Ibadah Haji dan diperkirakan beliau berasal dari Arab karena dimasa itu belum ada orang Indonesia yang pergi Haji.
H. Syaid Seran menyambung penyebaran Islam di Lamahala dan menetap pada suku Seran. Beliau sekaligus bertugas memimpin Jamaah sebagai Imam Besar di Mesjid Jami Al-Ma’ruf Lamahala menggantikan Imam Ata Koja, karena Imam Ata Koja berhijrah keluar ketempat lain dengan maksud dan tujuan untuk menyebarkan agama islam pada tempat-tempat yang belum menerima dak’wah Islam.

PENYEBARAN ISLAM DARI BANDA NAIRA oleh PATI RAJA

Beliau adalah Mubalig Islam yang tiba di Lamahala pada abad ke-16, dan menetap di Lamahala mengambil tempat yang diberi nama SUKU WADAN. Pati Raja kemudian diberi jabatan sebagai pembantu Imam apabila Imam H. Syaid berhalangan atau bepergian keluar ke tempat lain. Dan tugas ini menjadi tanggung jawab staf Syara yang berlaku sampai sekarang.
Berpedoman pada penjelasan yang penulis sajikan ini maka Expedisi ini disebut penyebar agama Islam dari AMBON LODO. Sebagaimana syair Lamaholot mengatakan SERAN RERA GERE, WANDA NUAN TAWA, artinya : Pulau Seran dan pulau Banda terletak pada arah Matahari terbit dibagian Timur.
Menyusul penyebaran dari pulau Jawa yakni mubalig Islam bernama HASAN MARTAWI dari Batavia dan seorang Guru (Ulama) yakni MUHAMMAD AHMAD MUSTAFA ATA SYAID dari bangsa Arab. Keduanya tiba di Lamahala sekitar abad ke-17, dan menetap di suku ATAPUKAN. Keseharian mereka melakukan kegiatan pengajian agama Islam secara Ta’lim.
Hasan Martawi dan Muhammad Ahmad Mustafa Ata Syaid tidak menurunkan keturunan. Hanya menempatkan tempat sebagai tanda makamnya yakni untuk Hasan Martawi, tempatnya di NOBO PUSAT NAMANG TUKANG, dan Muhammad Ahmad Mustafa Ata Syaid, tempatnya di atas ILE TOBITURU yang paling ujung arah dari arah selatan, tanda kuburnya dengan batu KULLA dan batu BIRI. Makam tersebut sampai sekarang masih secara nyata.
Demikian beberapa Expedisi penyebar agama Islam yang masuk di Lamahala sebagai awal perkembangan agama Islam. Dan perlu dihayati oleh masyarakat Lamahala sejak awal dan tumbuh sampai sekarang tidak ada campuran agama non Islam yang tinggal di Lamahala. Yang ada mungkin hanya bertugas sebagai Guru dan setelah selesai tugas sebagai guru maka kembali ke Waiwerang atau ke tempat lain.
Bersambung………..

Diposkan oleh rauf belualolong

Kalifah Dalam Sejarah Islam

Dinasti Islam

Dinasti Islam muncul setelah masa al-Khulafa ar_Rasyidun berakhir. Tradisi pemerintah Islam tetap dipertahankan bersamaan dengan upaya perluasan wilayah Islam ke seluruh dunia.
Berikut adalah beberapa dinasti Islam yang pernah berkuasa di dunia :

» Dinasti UMAYAH ----- 40 H/661 M - 132 H/750 M
» Dinasti ABBASIYAH ----- 132/750 M - 656 H/1258 M
» Dinasti IDRISIYAH ----- 172 H/789 M - 314 H/926 M
» Dinasti AGHLABIYAH ----- 184 H/800 M - 296 H/909 M
» Dinasti SAMANIYAH ----- 203 H/819 M - 395 H/1005 M
» Dinasti SAFARIYAH ----- 253 H/867 M - 900/1495 M
» Dinasti TULUN ----- 254 H/868 M - 292 H/905 M
» Dinasti HAMDANIYAH ----- 292 H/905 M - 394 H/1004 M
» Dinasti FATIMIYAH ----- 296 H/909 M - 566 H/1171 M
» Dinasti BUWAIHI ----- 33 H/945M - 447 H/1055M
» Dinasti SELJUK ----- 469 H/1077 M - 706 H/1307 M
» Dinasti AYUBIYAH ----- 569 H/1174 M - 650 H/1252 M
» Dinasti DELHI ----- 602 H/1206 M - 962 H/1555 M
» Dinasti MAMLUK MESIR ----- 648 H/1250 M - 923 H/1517 M
» Dinasti MUGHAL ----- 931 H/1525 M - 1275 H/1858 M
» Dinasti USMANI/OTTOMAN ----- 699 H/1300 M - 1341 H/1922 M

UMAYAH (40 H/661 M - 132 H/750 M)
Wilayah kekuasaan dinasti ini meliputi daerah Timur Tengah, Afrika Utara dan Spanyol. Dinasti Umayah berasal dari keturunan Umayah bin Abdul Syams bin Abdul Manaf, pemimpin sukua Quraisy terpandang. Dinasti Umayah muncul setelah Ali bin Abi Thalib (40 H/661 M) meninggal. Mu'awiyah, keturunan Bani Umayah dari keluarga Harb, meneruskan kekuasaan dengan mendirikan Dinasti Umayah. Dinasti Umayah terbagi menjadi dua periode kekuasaan yaitu Umayah Damascus (Suriah) dan Umayah Cordoba (Spanyol). Kejayaan Dinasti Umayah Damascus terdapai pada masa Khalifah al-Walid. Berakhirnya Dinasti Umayah Damascus terjadi ketika Marwan II dibunuh tentara Abbasiyah pada 132 H/750 M. Selanjutnya Abdurrahman (cucu Hisyam) meloloskan diri ke Spanyol dan mendirikan Dinasti Umayah Cordoba. Dinasti Umayah Cordoba mengalami kejayaan pada masa Abdurrahman III dan al-Hakam II. Peninggalan Dinasti Umayah Damascus berupa Katedral St. John di Damascus yang diubah menjadi masjid, Katedral di Hims yang digunakan sebagai masjid dan gereja dan tempat istirahat di padang pasir seperti Qusair Amrah dan al-Musatta, adapun peninggalan Dinasti Umayah Cordoba adalah Masjid Cordoba di Spanyol.

ABBASIYAH (132/750 M - 656 H/1258 M)
Dinasti ini mempunyai wilayah kekuasan yang meliputi Irak, Suriah, Semenanjung Arabia, Uzbekistan dan Mesir bagian timur. Pendiri dinasti sekaligus khalifah pertama adalah Abu Abbas as-Saffah. Kekuasaan Dinasti Abbaisyah dibagi menjadi empat periode, yaitu periode awal 132 H/750 M-232 H/847 M), periode lanjutan (232 H/847 M-333 H/945 M), periode Buwaihi (333 H/945 M- 447 H/1055 M), dan periode Seljuk (447 H/1055 M- 656 H/1258 M). Masa panjang dinasti ini dilalui dengan pola pemerintahan yang berubah-ubah seusuai perubahan politik, sosial, budaya dan penguasa. Dinasti Abbasiyah mengalami jaman keemasan ketika dipimpin oleh as-Saffah, al-Mansur, al-Mahdi, Harun ar-Rasyid, al-Amin, al-Ma'mum, Ibragim, al-Mu'tasim dan al-Wasiq. kekuasaan Abbasiyah melemah dengan adanya pertentangan dan pemberontakan dari dalam negeri serta ancaman dari pihak luar, seperti Bizantum (Romawi Timur) dan orang Mongol. Dinasti Abbasiyah runtuh setelah orang Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan, cucu Jengiz Khan, menghancurkan Baghdad. Peninggalan Dinasti Abbasiyah meliputi antaran lain Baitulhikmah, yaitu suatu lembaga pusat kajian keilmuan yang didirikan oleh Khalifah Harun ar-Rasyid, dan Masjid al-Mutawakkil yang mempunyai menara spiral di Samarra (Irak).

IDRISIYAH (172 H/789 M - 314 H/926 M)
Wilayah kekuasaannya adalah Magribi (Maroko). Dinasti ini didirikan oleh Idris I bin Abdullah, cucu Hasan bin Ali bin Abi Thalib, dan merupakan dinasti pertama yang beraliran Syiah, terutama di Maroko dan Afrika Utara. Sultan Idrisiyah terbesar adalah Yahya IV (292 H/905 M-309 H/922 M) yang berhasil merestorasi Volubilis, kota Romawi, menjadi kota Fez. Dinasti Idrisiyah berperan dalam menyebarkan budaya dan agama Islam ke bangsa Berber dan penduduk asli. Dinasti ini runtuh setelah ditaklukkan oleh Dinasti Fatimiyah pada 374 H/985 M. Dinasti Idrisiyah antara lain meninggalkan Masjid Karawiyyin dan Masjid Andalusia yang didirikan pada 244 H/859 M.

AGHLABIYAH (184 H/800 M - 296 H/909 M)
Pusat pemerintahannya terletak di Qairawan, Tunisia. Wilayah kekuasaan Aghlabiyah meliputi Tunisia dan Afrika Utara. Pemimpin pertama dinasti ini adalah Ibrahim I bin al-Aglab, seorang panglima dari Khurasan Aghlabiyah berperan dalam mengganti bahasa latin dengan bahasa Arab serta menjadikan Islam agama mayoritas. Dinasti ini berhasil menduduki Sicilia dan sebagian besar Italia Selatan, Sardinia, Corsica, bahkan pesisir Alpen pada abad ke-9. Dinasti Aghlabiyah berkahir setelah ditaklukan oleh Dinasti Fatimiyah. Peninggalan dinasti ini antara lain adalah Masjid Raya Qairawan dan Masjid Raya di Tunis.

SAMANIYAH (203 H/819 M - 395 H/1005 M)
Wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah meliputi daerah Khurasan (Irak) dab Transoksania (Uzbekistan) yang terletak di sebelah timur Baghdad. Ibukotanya adalah Bukhara. Dinasti Samaniyah didirikan oleh Ahmad bin Asad bin Samankhudat, keturunan seorang bangsawan Balkh (Afghanistan Utara). Puncak kejayaan tercapai pada masa pemerintaha Isma'il II al-Muntasir, khalifah terakhir Samaniyah, tidak dapat mempertahankan wilayahnya dari serangan Dinasti Qarakhan dan Dinasti Ghaznawi. Dinasti Samaniyah berakhir setelah Isma'il II terbunuh pada 395 H/1005 M. Peninggalan Dinasti Samaniyah berupaa Mausoleum Muhammad bin Ismail al-Bukhari, seorang ilmuwan muslim.

SAFARIYAH (253 H/867 M - 900/1495 M)
Dinasti Safariyah merupakan sebuah dinasti Islam yang paling lama berkuasa di dunia. Wilayah kekuasaan Dinasti Safariyah meliputi kawasan Sijistan, Iran. Pendiri dinasti ini adalah Ya'qub bin Lais as-Saffar, seorang pemimpin kelompok Khawarij di Porpinsi Sistan (Iran). Dinasti Safariyah di bawah kepemimpinan Amr bin Lais berhasil melebarkan wilayah kekuasaanya sampai Afghanistan Timur. Pada masa itulah kekuasaan Dinasti Safariyah mencapi puncaknya. Dinasti ini semakin melemah karena pemberontakan dan kekacauan dalam pemerintahan. Akhirnya Dinasti Ghaznawi mengambil alih kekuasaan Dinasti Safariyah. Setelah penguasa terakhir Dinasti Safariyah, Khalaf, meninggal dunia, berakhir pula kekuasaan Dinasti Safariyah di Sijistan.

TULUN (254 H/868 M - 292 H/905 M)
Dinasti Tulun adalah sebuah dinasti Islam yang masa pemerintahannya paling cepat berakhir. Wilayah kekuasaan dinasti Tulun meliputi Mesir dan Suriah. Pendirianya adalah Ahmad bin Tulun, putra seorang Turki yang diutus oleh gubernur Transoksania (Uzbekistan) emmbawa upeti ke Abbasiyah. Dinasti Tulun yang memerintah sampai 38 tahun berakhir ketika dikalahkan oleh pasukan Abbasiyah dan setelah Khalifah Syaiban bin Tulun terbunuh.

HAMDANIYAH (292 H/905 M - 394 H/1004 M)
Wilayah kekuasaanya meliputi Aleppo (Suriah) dan Mosul (Irak). Nama dinasti ini dinisbahkan kepada pendirinya, Hamdan bin Hamdun yang bergelar Abul Haija'. Dinasti Hamdaniyah di Mosul dipimpin oleh Hasan yang menggantikan ayahnya, Abu al-Haija;. Kepemimpinan Hasan mendapat pengakuan dari pemerintah Baghdad. Dinasti Hamdaniyah di Aleppo didirikan oleh Ali Saifuddawlah, suadara dari penguasa Hamdaniyah Mosul. Ali Saifuddawlah merebut Aleppo dari Dinasti Ikhsyidiyah. Dinasti Hamdaniyah di Mosul maupun di Aleppo berakhir ketika para pemimpin meninggal.

FATIMIYAH (296 H/909 M - 566 H/1171 M)
Wilayah kekuasaannya meliputi Afrika Utara, Mesir dan Suriah. Berdirinya Dinasti Fatimiyah dilatarbelakangi oleh melemahnya Dinasti Abbasiyah. Ubaidillah al-Mahdi mendirikan dinasti Fatimiyah yang lepas dari kekuasaan Abbasiyah. Dinasti ini mengalami puncak kejayaan pada masa kepemimpinan al-Aziz. Kebudayaan Islam berkembang pesat pada masa Dinasti Fatimiyah, yang ditandai dengan berdirinya Masjid al-Azhar. Masjid ini berfungsi sebagai pusat pengkajian Islam dan ilmu pengetahuan. Dinasti Fatimiyah berakhis setelah al-Adid, khalifah terakhir Dinasti Fatimiyah, jatuh sakit. Salahudin Yusub al-Ayyubi, wazir Dinasti Fatimiyah menggunakan kesempatan tersebut dengan mengakui kekuasaan khalifah Abbasiyah, al-Mustadi. Peninggalan dinasti ini meliputi antara lain Masjid al-Azhar yang sekarang terkenal dengan Universitas al-Azhar-nya, Bab al-Futuh (Benteng Futuh) dan Masjid al-Akmar di Cairo, Mesir.

BUWAIHI (33 H/945M - 447 H/1055M)
Wilayah kekuasaan Dinasti Buwaihi meliputi Irak dan Iran. Dinasti ini dibangun oleh tiga bersaudara yaitu Ali bin Buwaihi, Hasan bin Buwaihi dan Ahmad bin Buwaihi. Perjalanan Dinasti Buwaihi dapat dibagi dua periode. Periode pertama merupakan periode pertumbuhan dan konsolidasi sedangkan periode kedua daalh periode defensi, khususnya di wilayah Irak dan Iran Tengah. Dinasti Buwaihi mengalami perkembangan pesat ketika Dinasti Abbasiyah di Baghdad mulai melemah. Dinasti Buwaihi mengalami kemunduran dengan adanya pengaruh Tugril Beg dari Dinasti Seljuk. Peninggalan dinasti ini antara lain berupa observatorium di Baghdad dan sejumlah perpustakaan di Syiraz, ar-Rayy dan Isfahan (Iran).

SELJUK (469 H/1077 M - 706 H/1307 M
Wilayah kekuasaannya meliputi Irak, Iran, Kirman dan Suriah. Dinasti Seljuk dibagi menjadi lima cabang yaitu Seljuk Iran, Seljuk Irak, Seljuk Kirman, Seljuk Asia Kecil dan Seljuk Suriah. Dinasti Seljuk didirikan oleh Seljuk bin Duqaq dari suku bangsa Guzz dari Turkestan. Akan tetapi tokoh yang dipandang sebagai pendiri dinasti seljuk yang sebenarnya adalah Tugril Beq. Ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan Dinasti Seljuk dan mendapat pengakuan dari Dinasti Abbasiyah. Dinasti Seljuk melemah setelah para pemimpinnya meninggal atau ditaklukkan oleh bangsa lain. Peninggalan dinasti ini adalah Kizil Kule (Menara Merah) di Alanya, Turki Selatan, yang merupakan pangkalan pertahanan Bani Seljuk dan Masjid Jumat di Isfahan, Iran.

AYUBIYAH (569 H/1174 M - 650 H/1252 M)
Pusat pemerintahan Dinasti Ayubiyah adalah Cairo, Mesir. Wilayah kekuasaannya meliputi kawasan Mesir, Suriah dan Yaman. Dinasti Ayubiyah didirikan Salahudin Yusuf al-Ayyubi, setelah menaklukan khalifah terakhir Dinasti Fatimiyah, al-Adid. Salahudin berhasil menaklukan daerah Islam lainnya dan pasukan salib. Selain dikenal sebagai panglima perang, Salahudin juga mendorong kemajuan di bidang agama dan pendidikan. Berakhirnya masa pemerintahan Ayubiyah ditandai dengan meninggalnya Malik al-Asyraf Muzaffaruddin, sultan terakhir dan berkuasanya Dinasti Mamluk. Peninggalan Ayubiyah adalah Benteng Qal'ah al-Jabal di Cairo, Mesir.

DELHI (602 H/1206 M - 962 H/1555 M)
Wilayah kekuasaan Dinasti Delhi terletak di India Utara. Dinasti Delhi mengalami lima kali pergantian kepemimpinan yaitu Dinasti Mamluk, Dinasti Khalji, Dinasti Tuglug, Dinasti Sayid dan Dinasti Loyd. Pada periode pertama, Delhi dipimpin Dinasti Mamluk selama 84 tahun. Mamluk merupakan keturunan Qutbuddin Aybak, seorang budak dari Turki. Dinasti Khalji dari Afghanistan memerintah selama 30 tahu. Dinasti Tuglug memerintah selama 93 tahun, sedangkan Dinasti Sayid selama 37 tahun. Penguasa terakhir Delhi adalah Dinasti Lody yang memerintah selama 75 tahun. Peninggalan Dinasti Delhi antara lain adalah Masjid Kuwat al-Islam dan Qutub Minar yang berupa menara di Lalkot, Delhi (India)

MAMLUK MESIR (648 H/1250 M - 923 H/1517 M)
Wilayah kekuasaan Dinasti Mamluk Mesir dan Suriah. Dinasti Mamluk berasal dari golongan hamba yang dimiliki oleh para sultan dan amir, yang dididik secara militer oleh tuan mereka. Dinasti Mamluk yang memerintah di Mesir dibagi dua yaitu Mamluk Bahri dan Mamluk Burji. Sultan pertama Dinasti Mamluk Bahri adalah Izzudin Aibak, Sultan Dinasti Mamluk Bahri yang terkenal antara lain adalah Qutuz, Baybars, Qalawun dan Nasir Muhammad bin Qalawun. Baybars adalah sultan Dinasti Mamluk Bahri yang berhasil membangun pemerintahan yang kuat dan berkuasa selama 17 tahun. Dinasti Mamluk Burji kemudian mengambil alih pemerintahan dengan menggulingkan sultan Mamluk Bahri terakhir, as-Salih Hajii bin Sya'ban. Sultan pertama penguasa Dinasti Mamluk Burji adalah Barquq (784 H/1382 M-801 H/1399 M). Dinasti Mamluk Mesir memberikan sumbangan besar bagi sejarah Islam dengan mengalahkan kelompok Nasrani Eropa yang menyerang Syam (Suriah). Selain itu, Dinasti Mamluk Mesir berhasil mengalahkan bangsa Mongol, merebut dan mengIslamkan Kerajaan Nubia (Ethiopia), serta menguasai Pulau Cyprus dan Rhodos. Dinasti Mamluk Mesir berakhir setelah al-Asyras Tuman Bai, sultan terakhir, dihukum gantung oleh pasukan Usmani Turki. Peninggalan Dinasti Mamluk antara lain berupa Masjid Rifai, Mausoleum Qalawun dan Masjid Sultan Hassan di Cairo.

MUGHAL (931 H/1525 M - 1275 H/1858 M)
Wilayah kekuasaan dinasti ini terletak di India. Dinasti Mughal didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur, putra pertama Umar Syeikh Mirza, seorang penguasa Fargana di Turkistan (Transoksania). Dinasti Mughal dimulai ketika Babur menguasai Punjab dan meruntuhkan Dinasti Lody di Delhi. Dinasti Mughal menyebabkan terpusatnya daerah di India yang semula oleh gubernur, serta meluasnya politik Islam di wilayah India. Dinasti Mughal sangat memperhatikan pengembangan Islam, terutama di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dinasti Mughal mendirikan khanqah (pesantren), yang merupakan pusat studi Islam dan ilmu pengetahuan. Dinasti Mughal juga memperhatikan pengembangan peradaban, terutama di bidang seni lukis, seni musik dan seni bangunan. Hal ini antara lain terlihat dari peninggalannya berupa Istana Hawa Mahal di Jaipur, red Fort (Benteng Merah), Delhi, Taj Mahal di Agra dan Masjid Badsyahi di Lahore. Dinasti ini runtuh setelah Inggris mulai menancapkan kekuasaanya di India. Bahadur II, sultan terakhir, diusir dari istananya oleh penguasa Inggris.

USMANI/OTTOMAN (699 H/1300 M - 1341 H/1922 M)
Dinasti yang pusat pemerintahannya di Istanbul, Turki, ini mempunyai wilayah kekuasaan paling luas. Wilayahnya meliputi sebagian Asia, Afrika dan Eropoa. Dinasti Usmani merupakan satu di antara tiga dinasti Islam yang besar pada abad Pertengahan, selain Dinasti Safawi di Persia (Iran) dan Dinasti Mughal di India. Dalam sejarah Islam, periode itu disebut juga Masa Tiga Kerajaan Besar. Dinasti Usmani menjadi negara besar setelah berhasil menaklukan Bizantium (856 H/1453 M) dan berkuasa lebih dari 6 abad. Dinasti ini didirikan oleh Usman, putra seorang pemimpin suku Kayi yang bernama Artogrol. Dinasti Usmani berhasil menyebarkan Islam sampai ke daratan Eropa. Puncak kejayaan dinasti ini tercapai pada masa pemerintahan Sulaiman I (The Great, The Magnificent, al-Qanuni). Dinasti Usmani kemudian semakin melemah akibat pemberontakan internal dan kalah perang melawan bangsa Eropa. Pada perkembangan selanjutnya, Dinasti Usmani mengalami masa modernisasi (1839-1924), yang ditandai dengan pembaruan di bidang politik, administrasi dan kebudayaan. Dinasti Usmani berakhir dan berganti menjadi negara modern yang berbentuk republik yang sekuler pada 1924. Pendirian republik Turki dipelopori oleh Mustafa Kemal Pasya Ataturk. Ia menanamkan paham nasionalisme dan menghapuskan kekuasaan sultan. ada banyak peninggalan Dinasti Usmani, antara lain Masjid Sulaiman, Masjid al-Muhammadi, Masjid Abu Ayub al-Ansari dan Masjid Aya Sofia di Istanbul yang berasal dari renovasi sebuah gereja.

Urutan Lengkap Khalifah dalam Sejarah Islam

Kaum muslimin mengetahui bahawa khalifah pertama dalam sejarah Islam adalah Abu Bakar ra, akan tetapi majoriti kaum muslimin saat ini, tidak mengetahui bahwa Sultan ‘Abdul Majid II adalah khalifah terakhir yang dimiliki oleh umat Islam, pada masa lenyapnya Daulah Khilafah Islamiyyah akibat pemerintahan Musthafa Kamal yang menghancurkan sistem kilafah dan meruntuhnya Dinasti ‘Utsmaniyyah. Fenomena initerjadi pada tanggal 27 Rajab 1342 H.

Dalam sejarah kaum muslimin hingga hari ini, pemerintah Islam di bawah institusi Khilafah Islamiah pernah dipimpin oleh 104 khalifah. Mereka (para khalifah) terdiri dari 5 orang khalifah dari khulafaur raasyidin, 14 khalifah dari dinasti Umayyah, 18 khalifah dari dinasti ‘Abbasiyyah, diikuti dari Bani Buwaih 8 orang khalifah, dan dari Bani Saljuk 11 orang khalifah. Dari sini pusat pemerintahan dipindahkan ke Kaherah, yang dilanjutkan oleh 18 orang khalifah. Setelah itu khalifah berpindah kepada Bani ‘Utsman. Dari Bani ini terdapat 30 orang khalifah. Umat Islam masih mengetahui nama-nama para khulafaur rasyidin jika dibandingkan dengan yang lain. Walaupun begitu, mereka juga tidak lupa dengan Khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz, Harun al-rasyid, Sultan ‘Abdul Majid, serta khalifah-khalifah yang masyur dikenal dalam sejarah.

khulafaur Rasyidin
Adapun nama-nama para khalifah pada masa khulafaur Rasyidin sebagai berikut:
1.Abu Bakar ash-Shiddiq ra (tahun 11-13 H/632-634 M)
2.’Umar bin khaththab ra (tahun 13-23 H/634-644 M)
3.’Utsman bin ‘Affan ra (tahun 23-35 H/644-656 M)
4.Ali bin Abi Thalib ra (tahun 35-40 H/656-661 M)
5.Al-Hasan bin Ali ra (tahun 40 H/661 M)

Setelah mereka, khalifah berpindah ke tangan Bani Umayyah selama lebih dari 89 tahun. Khalifah pertama adalah Mu’awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Masa kekuasaan mereka sebagai berikut :

Dari Bani Umayyah
01.Mu’awiyah bin Abi Sufyan (tahun 40-64 H/661-680 M)
02.Yazid bin Mu’awiyah (tahun 61-64 H/680-683 M)
03.Mu’awiyah bin Yazid (tahun 64-68 H/683-684 M)
04.Marwan bin Hakam (tahun 65-66 H/684-685 M)
05.’Abdul Malik bin Marwan (tahun 66-68 H/685-705 M)
06.Walid bin ‘Abdul Malik (tahun 86-97 H/705-715 M)
07.Sulaiman bin ‘Abdul Malik (tahun 97-99 H/715-717 M)
08.’Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (tahun 99-102 H/717-720 M)
09.Yazid bin ‘Abdul Malik (tahun 102-106 H/720-724 M)
10.Hisyam bin Abdul Malik (tahun 106-126 H/724-743 M)
11.Walid bin Yazid (tahun 126 H/744 M)
12.Yazid bin Walid (tahun 127 H/744 M)
13.Ibrahim bin Walid (tahun 127 H/744 M)
14.Marwan bin Muhammad (tahun 127-133 H/744-750 M)

Setelah itu sistem khalifah beralih ke tangan Bani Abas, Bani Buwaih dan Bani Saljuk, diantaranya :

a. Dari Bani ‘Abbas
01.Abul ‘Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M)
02.Abu Ja’far al-Mansyur (tahun 137-159 H/754-775 M)
03.Al-Mahdi (tahun 159-169 H/775-785 M)
04.Al-Hadi (tahun 169-170 H/785-786 M)
05.Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H/786-809 M)
06.Al-Amiin (tahun 194-198 H/809-813 M)
07.Al-Ma’mun (tahun 198-217 H/813-833 M)
08.Al-Mu’tashim Billah (tahun 218-228 H/833-842 M)
09.Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H/842-847 M)
10.Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M)
11.Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H/861-862 M)
12.Al-Musta’in Billah (tahun 248-252 H/862-866 M)
13.Al-Mu’taz Billah (tahun 252-256 H/866-869 M)
14.Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H/869-870 M)
15.Al-Mu’tamad ‘Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M)
16.Al-Mu’tadla Billah (tahun 279-290 H/892-902 M)
17.Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H/902-908 M)
18.Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H/908-932 M)

b. Dari Bani Buwaih
19.Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H/932-934 M)
20.Al-Radli Billah (tahun 323-329 H/934-940 M)
21.Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M)
22.Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M)
23.Al-Muthi’ Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M)
24.Al-Thai’i Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M)
25.Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M)
26.Al-Qa’im Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M)

c. Dari Bani Saljuk
27. Al Mu’tadi Biamrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M)
28. Al Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M)
29. Al Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M)
30. Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M)
31. Al Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160M)
32. Al Mustanjid Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M)
33. Al Mustadhi’u Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M)
34. An Naashir Liddiinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M)
35. Adh Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M)
36. al Mustanshir Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M)
37. Al Mu’tashim Billah ( tahun 640-656 H/1242-1258 M)

Peristiwa tragis di dunia Islam pada abad ke 13 M atau tahun 1258 M ini yang pernah diramalkan oleh Rasulullah ketika beliau bermimpi melihat dinding Yakjuj dan Makjuj sudah terbuka. Mimpi nabi akan akhir jaman ini menjadi kenyataan antara enam hingga tujuh abad kemudian yaitu keluarnya bangsa Tartar Mongol yang dipimpin oleh Genghis Khan. Setelah itu kekuasaan bangsa ini diteruskan oleh cucunya yang bernama Hulaghu Khan pada abad ke-7 Hijriah.

Dalam inskripsi hadis yang lain, Nabi Muhammad juga menggambarkan mengenai ciri-ciri fisik Yakjuj dan Makjuj. Mereka adalah bangsa yang lebar dahinya, bermata sipit, rambuntnya merah menyala, berasal dari dataran tinggi, dan wajahnya rata seperti dipukuli. Rasulullah pernah berkhotbah ketika jari beliau dibalut karena disengat kalajengking, beliau berkata : “Kamu mengatakan tidak ada permusuhan, padahal sesungguhnya kamu senantiasa memerangi musuh hingga datanglah Yakjuj dan Makjuj, yang lebar dahinya, sipit matanya, menyala (merah) rambutnya, mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi , wajahnya seperti dipalu.”

Demikianlah, siapa yang teringat serbuan besar-besaran bangsa Mongol Tartar atas negeri-negeri kaum Muslimin dan Nasrani. Mereka merupakan keturunan Yakjuj dan Makjuj pada abad ke-7 H. Mereka membawa kutukan mereka dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka membunuh banyak orang, melakukan perampasan dan pencurian. Mungkin, peristiwa itu akan terjadi lagi menjelang datangnya hari kiamat.

Setelah itu kaum muslimin hidup selama 3,5 tahun tanpa seorang khalifah pun. Ini terjadi kerana serangan orang-orang Tartar ke negeri-negeri Islam dan pusat kekhalifahan di Baghdad. Namun demikian, kaum muslimin di Mesir, pada masa dinasti Mamaluk tidak berdiam diri, dan berusaha mengembalikan kembali kekhilafahan. kemudian mereka membai’ah Al Muntashir dari Bani Abbas. Ia adalah putra Khalifah al-Abbas al-Dhahir Biamrillah dan saudara lelaki khalifah Al Mustanshir Billah, pakcik dari khalifah Al Mu’tashim Billah. Pusat pemerintahan dipindahkan lagi ke Mesir.

Khalifah yang diangkat dari mereka ada 18 orang yaitu :
01. Al Mustanshir billah II (taun 660-661 H/1261-1262 M)
02. Al Haakim Biamrillah I ( tahun 661-701 H/1262-1302 M)
03. Al Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M)
04. Al Watsiq Billah I (tahun 732-742 H/1334-1354 M)
05. Al Haakim Biamrillah II (tahun 742-753 H/1343-1354 M)
06. al Mu’tadlid Billah I (tahun 753-763 H/1354-1364 M)
07. Al Mutawakkil ‘Alallah I (tahun 763-785 H/1363-1386 M)
08. Al Watsir Billah II (tahun 785-788 H/1386-1389 M)
09. Al Mu’tashim (tahun 788-791 H/1389-1392 M)
10. Al Mutawakkil ‘Alallah II (tahun 791-808 H/1392-14-9 M)
11. Al Musta’in Billah (tahun 808-815 H/ 1409-1426 M)
12. Al Mu’tadlid Billah II (tahun 815-845 H/1416-1446 M)
13. Al Mustakfi Billah II (tahun 845-854 H/1446-1455 M)
14. Al Qa’im Biamrillah (tahun 754-859 H/1455-1460 M)
15. Al Mustanjid Billah (tahun 859-884 H/1460-1485 M)
16. Al Mutawakkil ‘Alallah (tahun 884-893 H/1485-1494 M)
17. al Mutamasik Billah (tahun 893-914 H/1494-1515 M)
18. Al Mutawakkil ‘Alallah OV (tahun 914-918 H/1515-1517 M)

Ketika daulah Islamiyah Bani Saljuk berakhir di Anatolia, Kemudian muncul kekuasaan yang berasal dari Bani Utsman dengan pemimpinnya “Utsman bin Arthagherl sebagai khalifah pertama Bani Utsman, dan berakhir pada masa khalifah Bayazid II (918 H/1500 M) yang diganti oleh putranya Sultan Salim I. Kemuadian khalifah dinasti Abbasiyyah, yakni Al Mutawakkil “alallah diganti oleh Sultan Salim. Ia berhasil menyelamatkan kunci-kunci al-Haramain al-Syarifah. Dari dinasti Utsmaniyah ini telah berkuasa sebanyah 30 orang khalifah, yang berlangsung mulai dari abad keenam belas Masehi. nama-nama mereka adalah sebagai berikut:

Dari Bani Uthmaniah
01. Salim I (tahun 918-926 H/1517-1520 M)
02. Sulaiman al-Qanuni (tahun 916-974 H/1520-1566 M)
03. salim II (tahun 974-982 H/1566-1574 M)
04. Murad III (tahun 982-1003 H/1574-1595 M)
05. Muhammad III (tahun 1003-1012 H/1595-1603 M)
06. Ahmad I (tahun 1012-1026 H/1603-1617 M)
07. Musthafa I (tahun 1026-1027 H/1617-1618 M)
08. ‘Utsman II (tahun 1027-1031 H/1618-1622 M)
09. Musthafa I (tahun 1031-1032 H/1622-1623 M)
10. Murad IV (tahun 1032-1049 H/1623-1640 M)
11. Ibrahim I (tahun 1049-1058 H/1640-1648 M)
12. Mohammad IV (1058-1099 H/1648-1687 M)
13. Sulaiman II (tahun 1099-1102 H/1687-1691M)
14. Ahmad II (tahun 1102-1106 H/1691-1695 M)
15. Musthafa II (tahun 1106-1115 H/1695-1703 M)
16. Ahmad II (tahun 1115-1143 H/1703-1730 M)
17. Mahmud I (tahun 1143-1168/1730-1754 M)
18. “Utsman IlI (tahun 1168-1171 H/1754-1757 M)
19. Musthafa II (tahun 1171-1187H/1757-1774 M)
20. ‘Abdul Hamid (tahun 1187-1203 H/1774-1789 M)
21. Salim III (tahun 1203-1222 H/1789-1807 M)
22. Musthafa IV (tahun 1222-1223 H/1807-1808 M)
23. Mahmud II (tahun 1223-1255 H/1808-1839 M)
24. ‘Abdul Majid I (tahun 1255-1277 H/1839-1861 M)
25. “Abdul ‘Aziz I (tahun 1277-1293 H/1861-1876 M)
26. Murad V (tahun 1293-1293 H/1876-1876 M)
27. ‘Abdul Hamid II (tahun 1293-1328 H/1876-1909 M)
28. Muhammad Risyad V (tahun 1328-1339 H/1909-1918 M)
29. Muhammad Wahiddin II (tahun 1338-1340 H/1918-1922 M)
30. ‘Abdul Majid II (tahun 1340-1342 H/1922-1924 M)

Sekali lagi terjadi dalam sejarah kaum muslimin, hilangnya kekhalifahan. Sayangnya, kaum muslimin saat ini tidak terpengaruh, bahkan tidak peduli dengan runtuhnya kekhilafahan. Padahal menjaga kekhilafahan tergolong kewajiban yang sangat penting. Dengan lenyapnya institusi kekhilafahan, mengakibatkan goncangnya dunia Islam, dan merosakan kestabilan di seluruh negeri Islam. Namun sangat disayangkan, tidak ada (pengaruh) apapun dalam diri umat, kecuali sebahagian kecil saja.

Jika kaum muslimin pada saat terjadinya serangan pasukan Tartar ke negeri mereka, mereka sempat hidup selama 3,5 tahun tanpa ada khalifah, maka umat Islam saat ini, telah hidup selama lebih dari 75 tahun tanpa ada seorang khalifah. Seandainya negara-negara Barat tidak menjajah dunia Islam, dan seandainya tidak ada penguasa-penguasa muslim berpaling tadah, seandainya tidak ada pengaruh tsaqofah, peradaban, dan berbagai persepsi kehidupan yang dipaksakan oleh Barat terhadap kaum muslimin, sungguh kembalinya kekhilafahan itu akan jauh lebih mudah. Akan tetapi kehendak Allah berlaku bagi ciptaanNya dan menetapkan umat ini hidup pada masa yang cukup lama.

Umat Islam saat ini hendaknya mulai rindu dengan kehidupan mulia di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Dan Insya Allah Daulah Khilafah itu akan berdiri. Sebagaimana sabda Rasulullah “…kemudian akan tegak Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan manhaj Nabi”. Kami dalam hal ini tidak hanya yakin bahwa kekhilafahan akan tegak, lebih dari itu, kota Roma (sebagai pusat agama Nashrani) dapat ditaklukkan oleh kaum muslimin setelah dikalahkannya Konstantinopel yang sekarang menjadi Istambul. Begitu pula daratan Eropa, Amerika, dan Rusia akan dikalahkan. Kemudian Daulah Khilafah Islamiyah akan menguasai seluruh dunia setelah berdirinya pusat Daulah Khilafah. Sungguh hal ini dapat terwujud dengan Izin Allah. INSYA ALLAH.

Bersambung ...
Diposkan oleh Muhammad Yusuf

Do'a

Hasil gambar untuk arabic Bismillahirrahmanirrahim
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, hamdan yuwaafi ni’amahu, wa yukafi mazidahu, ya rabbana lakal hamdu. Kama yanbaghi lii jalaali wajhika, wa ‘azhiimi sulthaanika.

Allaahumma shalli wa sallim wa baarik, 'alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa wa Maulaanaa Muhammadin wa ikhwaanihii minal anbiyaa-i wal mursaliin, wa azwaajihim wa aalihim wa dzurriyyaatihim wa ash-haabihim wa ummatihim ajma'iin.

Allaahumma innaa nas’aluka salaamatan fiddiini waddun-yaa wal akhirati wa ’aafiyatan fil jasadi wa ziyaadatan fil ‘ilmi wabarakatan firrizqi wa taubatan qablal mauti, wa rahmatan ‘indal mauti, wa maghfiratan ba’dal maut. Allahuma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil mauti, wannajaata minannaari wal ‘afwa ‘indal hisaab.

Allaahumma inna nas aluka husnul khaatimah wa na’uudzubika min suu ul khaatimah.

Allaahuma inna nas’aluka ridhaka waljannata wana’uudzubika min shakhkhatika wannaar.

Allaahummadfa’ ‘annal balaa-a walwabaa-a walfahsyaa-a wasy-syadaa-ida walmihana maa zhahara minhaa wamaa bathana min baladinaa haadzaa khaash-shataw wamin buldaanil muslimuuna ‘aammah.

Allaahumma ahlikil kafarata walmubtadi-‘ata walmusyrikuun, a’daa-aka a’daa-ad diin.

Allaahumma syatttit syamlahum wa faariq jam-‘ahum, wazalzil aqdaamahum.

Allaahumma adkhilnii mudkhala shidqiw wa-akhrijnii mukhraja shidqiw waj-‘al lii milladunka sulthaanan nashiiraa.

------(doa khusus untuk para khalifah yang disebut pada tulisan "Urutan Lengkap Khalifah Dalam Sejarah Islam", semoga Allaah selalu mencurahkan kasih sayang kepada mereka ).

ALLAAHUMMAGHFIRLAHUM WARHAMHUM WA’AAFIHIM WA’FU ‘ANHUM

ALLAAHUMMA LAA TAHRIMNAA AJRAHUM WA LAA TAFTINNAA BA’DAHUM WAGHFIRLANAA WALAHUM

---------------------

ALLAAHUMMAFTAHLII HIKMATAKA WANSYUR ‘ALAYYA MIN KHAZAA INI RAHMATIKA YAA ARHAMAR-RAAHIMIIN.

RABBI INNII LIMAA ANZALTA ILAYYA MIN KHAIRIN FAQIIR.

Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiina imaamaa.

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

“Allaahummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.

“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.

Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaabannaar wa adkhilnal jannata ma’al abraar.

Rabbanaa taqabbal minna innaka antassamii’ul aliimu wa tub’alainaa innaka antattawwaaburrahiim. Washshalallaahu ‘alaa sayyidinaa wa nabiyyinaa wa maulaanaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka wassallam.

HASBUNALLAAH WANI’MAL WAKIIL NI’MAL MAULA WANI’MAN NASHIIR.

Subhana rabbika rabbil ‘izzati, ‘amma yasifuuna wa salamun ‘alal anbiyaa-i wal mursaliin, walhamdulillahirabbil ‘aalamiin.

Aamiin yaa Allaah yaa rabbal ‘aalamiin.

Jumat, 02 Oktober 2015

PERINTAH DAKWAH LEBIH DULU DARI PERINTAH SHALAT

Maulana mengatakan amalan dakwah lebih dulu dari pada amalan fardhu? karena perintah dakwah lebih dahulu dari pada amalan fardhu shalat, puasa, zakat, dan naik haji.

Mari kita lihat ayat yang pertama diturunkan Allah kepada baginda Rasulullah dalam surat aL`alaq (...96) ayat 1-5 yang artinya, ''

Bacalah dengan menyebut nama TUhan yang menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. bacalah, dan tuhanmu yang maha pemurah. yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.''

Ayat al-qur'an yang kedua yang memerintahkan dakwah adalah surat Al`Mudatsir (74) ayat 1-2 yang artinya,'' Hai orang yang berselimut, bangunlah ! berikan peringatan!'' kedua surat yang di atas jolong-jolong (pertama) perintah yang diturunkan Allah yaitu perintah dakwah untuk seluruh manusia dibumi ini.

Menurut penjabaran maulana yang di kutip dari ijma' Hinanya hancurnya kehidupan umat islam didunia hari ini, karena perintah dakwah telah ditinggalkan beramai-ramai. Kalaupun ada kerja dakwah sedang dibuat dimana- mana, tetapi tidak sesuai lagi dengan cara yang dibuat oleh Rasulullah bersama para sahabatnya.

Karena itulah nusrah (bantuan) allah tidak diturunkan,karena cara dakwah dan usahanya tidak sesuai dengan sunnatullah. Tamsilnya begini : Kata maulana ' jalan kereta api baru betul dan sampai ketujuan jika berjalan diatas relnya. Bila berjalan diluar rel (landasan) yang ada, kereta api akan hancur bertabrakan. justru itu kita buatlah usaha dakwah ini sesuai dengan petunjuk allah (alqur'an), petunjuk Rasulullah (sunnah) dan para sahabatnya.

Kenapa kita katakan para sahabat? sebab orang-orang yang berguru langsung dan hidup bersama Rasulullah, mendakwahkan agama ini adalah para sahabat. sebab itulah kita wajib memepelajari sifat-sifat para sahabat yang mulia yang dikenal enam sifat, yakni ;

(1)memiliki sifat hakikat kalimat LAA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH;
(2) memiliki sifat shalat khusu' wal khudu';
(3) memiliki sifat ilmu ma'adzikir;
(4)memiliki sifat ikramul muslimin;
(5)memiliki sifat tash-hihunniyyah; dan
(6)memiliki sifat khuruj fii sabilillah kerja dakwah dan tabligh yang bergerak serta di gerakkan keseluruh alam.*

BEDA DAKWAH DAN CERAMAH :

DAKWAH= mengajak manusia agar dapat memakmurkan agama untuk taat kepada allah tanpa mengharap balasan atau bayaran dari orang,. karna kerja dakwah tidak bisa dibayar dengan apapun yang ada dimuka bumi ini sehingga kata nabi saw : Seandainya mereka mampu meletakkan matahari ditangan kanan saya dan bulan pada tangan kiri saya maka kerja dakwah tetap nabi buat dan tidak akan saya tinggalkan,.

CERAMAH= adalah segolangan manusia mengakui telah buat kerja dakwah tetapi tidak ikut di atas rel (petunjuk), dan mereka juga telah memakmurkan hidup dengan agama (meminta balasan) upah,... perlu di garis bawah ya...!!! dakwah dan ceramah tu jelas jauh berbeda..........